27 November 2008

Blog Elqolam Pindahan

Blog El Qolam dipindahkan ke Gintung [dot] Com 
 
Silahkan menuju rumah yang baru..
 
 
Regards.

07 November 2008

Motivasi : Kepepet Vs Iming-Iming

Kepepet Vs Iming-Iming Ada 2 sebab yg membuat orang tak tergerak untuk berubah. Yang pertama adalah impiannya kurang kuat, yang kedua tidak kepepet. Dua hal tersebut yang seringkali disebut orang sebagai motivasi.

Kesalahan fatal yang timbul oleh sebagian besar motivator ataupun trainer motivasi lainnya adalah hanya menggunakan impian sebagai 'iming-iming' untuk menggerakkan audiens.

"Apa Impian anda? Siapa yang impiannya punya mobil mewah? Rumah mewah? atau bahkan kapal pesiar?" Memang, saat di ruang seminar, mereka sangat terbawa dan termotivasi oleh sang motivator. Tapi masalahnya, sepulang dari seminar, mereka dihantam kemalasan, mungkin juga halangan-halangan bahkan seringkali oleh orang-orang yang mereka sayangi. Apa jadinya? Mereka tetap diam ditempat.

Contoh yang kedua, ada seorang salesman yang bekerja di suatu perusahaan. Seperti perusahaan lainnya, mereka menerapkan sistem bonus.

"Jika anda mencapai target yang telah ditentukan, maka anda akan mendapat bonus jalan-jalan keluar negeri!" kata managernya.

"Gimana, semangat?" lanjut manager berinteraksi.

"Semagaat..ngat. .ngat!" sambut salesman, sambil mengepalkan tangannya seolah siap tempur. Bulan demi bulan pun berlalu tanpa pencapaian target. Kemudian si manager bertanya,

"Apa bonus yang aku tawarkan kurang besar?".

"Enggak kok Pak, cukup besar, mudah-mudahan bulan depan tercapai Pak". Setelah 3 bulan masa 'iming-iming' tak berhasil, si manager mulai mengubah strategi. Dia berteriak agak menekan di dalam meetingnya,

"Pokoknya, jika anda tidak bisa mencapai target penjualan yang sudah saya tetapkan, anda saya PECAT!". Nah, keluarlah keringat dingin si salesman. Sekeluar dari ruangan dia langsung menyambangi calon-calon customernya, kerjanyapun semakin giat. Malas, malu, nggak pe-denya hilang seketika. Kok bisa? Karena KePePet! Yang dia pikirkan, jika dia tidak dapat memenuhi target, dia akan dipecat. Jika dipecat, penghasilannya akan nol.

"Trus anak istriku makan apa?" pikirnya. Anehnya, target penjualan yang selama ini tidak pernah tercapai, bisa juga terlampaui.

Itulah yang disebut The Power of Kepepet. 97% orang termotivasi karena Kepepet, bukan karena iming-iming. Maka dari itu ada pepatah mengatakan bahwa "Kondisi Kepepet adalah motivasi terbesar di dunia!". Banyak perusahaan mengkampanyekan Visi besarnya kepada seluruh karyawannya. Apa jawab mereka? "Emang gua pikirin!". Bukannya salah karyawan yang tidak peduli terhadap visi perusahaan, tapi karena visi itu tak terlihat oleh karyawan. Mereka lebih termotivasi oleh sesuatu yang berupa ancaman, baik situasi dimasa mendatang ataupun berupa punishment.

John P. Kotter (Harvard Business Review) mengemukakan " Establishing Sense of Urgentcy" adalah langkah pertama untuk menggerakkan perubahan dalam suatu organisasi. Dengan melihat ancaman-ancaman terhadap kompetisi dan krisis, membuat mereka tergerak, sebelum mengkomunikasikan "VISI". "Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah"

Jadi analisa kembali kehidupan Anda sekarang ini. Jika Anda tidak mengubahnya, rasa sakit atau kerugian apa yang akan Anda dapatkan dimasa mendatang. Saran saya, jika Anda berada di zona yang sangat nyaman untuk tidak berubah (tidak melihat ancaman), ciptakan sedikit trigger (challenge) misalnya berupa penambahan investasi rumah. Jangan beli rumah yang sesuai dengan kemampuan bayar Anda, tapi 'sedikit lebih' dari kemampuan Anda sekarang. Nah, dengan begitu Anda mau nggak mau dipaksa untuk mencari penghasilan tambahan atau mengurangi porsi pengeluaran yang tidak penting. Langkah kedua baru pikirkan nilai investasi itu 5 sampai 10 tahun mendatang, mungkin bisa sebagai solusi pembiayaan uang sekolah anak Anda kelak. Dengan meletakkan porsi dan posisi The Power of Kepepet dan Iming-iming secara tepat, InsyaAllah kita akan selalu termotivasi. FIGHT!
 
 
 
 
--------------------------------------------
stop speak, do act!
--------------------------------------------
http://nuriwan.com
http://elqolam.blogspot.com

PRESIDENT ELECT BARRACK OBAMMA'S VICTORY SPEECH TRANSCRIPT

Pidato kemenangan Obama
Menyentuh dan memberi inspirasi.....

PRESIDENT ELECT BARRACK OBAMMA'S VICTORY SPEECH TRANSCRIPT

Hello, Chicago.
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where
all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is
alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight
is your answer.

It's the answer told by lines that stretched around schools and churches in
numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and
four hours, many for the first time in their lives, because they believed
that this time must be different, that their voices could be that
difference. It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat
and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay,
straight, disabled and not disabled.

Americans who sent a message to the world that we have never been just a
collection of individuals or a collection of red states and blue states. We
are, and always will be, the United States of America.

It's the answer that led those who've been told for so long by so many to be
cynical and fearful and doubtful about what we can achieve to put their
hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a
better day. It's been a long time coming, but tonight, because of what we
did on this date in
this election at this defining moment change has come to America.

A little bit earlier this evening, I received an extraordinarily gracious
call from Senator McCain. Senator McCain fought long and hard in this
campaign. And he's fought even longer and harder for the country that he
loves. He has endured sacrifices for America that most of us cannot begin to
imagine. We are better off for the service rendered by this brave and
selfless leader.

I congratulate him; I congratulate Governor Palin for all that they've
achieved. And I look forward to working with them to renew this nation's
promise in the months ahead.

I want to thank my partner in this journey, a man who campaigned from his
heart, and spoke for the men and women he grew up with on the streets of
Scranton... and rode with on the train home to Delaware, the vice
president-elect of the United States, Joe Biden.

And I would not be standing here tonight without the unyielding support of
my best friend for the last 16 years ... the rock of our family, the love of
my life, the nation's next first lady ... Michelle Obama. Sasha and Malia
... I love you both more than you can imagine. And you have earned the new
puppy that's coming with us ... to the new White House.

And while she's no longer with us, I know my grandmother' s watching, along
with the family that made me who I am. I miss them tonight. I know that my
debt to them is beyond measure. To my sister Maya (Maya Soetoro -Ng - kakak
tirinya), my sister Alma, all my other brothers and sisters, thank you so
much for all the support that you've given me. I am grateful to them.

And to my campaign manager, David Plouffe ... the unsung hero of this
campaign, who built the best -- the best political campaign, I think, in the
history of the United States of America.

To my chief strategist David Axelrod ... who's been a partner with me every
step of the way. To the best campaign team ever assembled in the history of
politics ... you made this happen, and I am forever grateful for what you've
sacrificed to get it done.

But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It
belongs to you. It belongs to you.

I was never the likeliest candidate for this office. We didn't start with
much money or many endorsements. Our campaign was not hatched in the halls
of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms
of Concord and the front porches of Charleston. It was built by working men
and women who dug into what little savings they had to give $5 and $10 and
$20 to the cause.

It grew strength from the young people who rejected the myth of their
generation's apathy ... who left their homes and their families for jobs
that offered little pay and less sleep.

It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and
scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions
of Americans who volunteered and organized and proved that more than two
centuries later a government of the people, by the people, and for the
people has not
perished from the Earth. This is your victory.

And I know you didn't do this just to win an election. And I know you didn't
do it for me. You did it because you understand the enormity of the task
that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges
that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime -- two wars, a
planet in peril, the worst financial crisis in a century.

Even as we stand here tonight, we know there are brave Americans waking up
in the deserts of Iraq and the mountains of Afghanistan to risk their lives
for us. There are mothers and fathers who will lie awake after the children
fall asleep and wonder how they'll make the mortgage or pay their doctors'
bills or save enough for their child's college education.

There's new energy to harness, new jobs to be created, new schools to build,
and threats to meet, alliances to repair.The road ahead will be long. Our
climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term.
But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will
get there.

I promise you, we as a people will get there.
AUDIENCE: Yes we can! Yes we can! Yes we can!

There will be setbacks and false starts. There are many who won't agree with
every decision or policy I make as president. And we know the government
can't solve every problem.

But I will always be honest with you about the challenges we face. I will
listen to you, especially when we disagree. And, above all, I will ask you
to join in the work of remaking this nation, the only way it's been done in
America for 221 years -- block by block, brick by brick, calloused hand by
calloused hand.

What began 21 months ago in the depths of winter cannot end on this autumn
night. This victory alone is not the change we seek. It is only the chance
for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way
things were.

It can't happen without you, without a new spirit of service, a new spirit
of sacrifice.So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility,
where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not
only ourselves but each other.

Let us remember that, if this financial crisis taught us anything, it's that
we cannot have a thriving Wall Street while Main Street suffers.

In this country, we rise or fall as one nation, as one people. Let's resist
the temptation to fall back on the same partisanship and pettiness and
immaturity that has poisoned our politics for so long.

Let's remember that it was a man from this state who first carried the
banner of the Republican Party to the White House, a party founded on the
values of self-reliance and individual liberty and national unity. Those are
values that we all share. And while the Democratic Party has won a great
victory tonight, we do so with a measure of humility and determination to
heal the divides that have held back our progress.

As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies
but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds
of affection.

And to those Americans whose support I have yet to earn, I may not have won
your vote tonight, but I hear your voices. I need your help. And I will be
your president, too.

And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments
and palaces, to those who are huddled around radios in the forgotten corners
of the world, our stories are singular, but our destiny is shared, and a new
dawn of American leadership is at hand.

To those -- to those who would tear the world down: We will defeat you. To
those who seek peace and security: We support you. And to all those who have
wondered if America's beacon still burns as bright: Tonight we proved once
more that the true strength of our nation comes not from the might of our
arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals:
democracy, liberty, opportunity and unyielding hope.That's the true genius
of America: that America can change. Our union can be perfected. What we've
already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow.

This election had many firsts and many stories that will be told for
generations. But one that's on my mind tonight's about a woman who cast her
ballot in Atlanta. She's a lot like the millions of others who stood in line
to make their voice heard in this election except for one thing: Ann Nixon
Cooper is 106 years old.

She was born just a generation past slavery; a time when there were no cars
on the road or planes in the sky; when someone like her couldn't vote for
two reasons -- because she was a woman and because of the color of her skin.
And tonight, I think about all that she's seen throughout her century in
America --
the heartache and the hope; the struggle and the progress; the times we were
told that we can't, and the people who pressed on with that American creed:
Yes we can.

At a time when women's voices were silenced and their hopes dismissed, she
lived to see them stand up and speak out and reach for the ballot. Yes we
can.

When there was despair in the dust bowl and depression across the land, she
saw a nation conquer fear itself with a New Deal, new jobs, a new sense of
commonpurpose. Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

When the bombs fell on our harbor and tyranny threatened the world, she was
there to witness a generation rise to greatness and a democracy was saved.
Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

She was there for the buses in Montgomery, the hoses in Birmingham, a bridge
in Selma, and a preacher from Atlanta who told a people that "We Shall
Overcome." Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

A man touched down on the moon, a wall came down in Berlin, a world was
connected by our own science and imagination. And this year, in this
election, she touched her finger to a screen, and cast her vote, because
after 106 years in America, through the best of times and the darkest of
hours, she knows how America can change. Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

America, we have come so far. We have seen so much. But there is so much
more to do. So tonight, let us ask ourselves -- if our children should live
to see the next century; if my daughters should be so lucky to live as long
as Ann Nixon Cooper, what change will they see? What progress will we have
made? This is our chance to answer that call. This is our moment. This is
our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for
our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reclaim
the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many,
we are one; that while we
breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those
who tell us that we can't, we will respond with that timeless creed that
sums up the spirit of a people: Yes, we can.

Thank you.
God bless you. And may God bless the United States of America.
 
 
 
 
--------------------------------------------
stop speak, do act!
--------------------------------------------
http://nuriwan.com
http://elqolam.blogspot.com

05 November 2008

Foto Syekh Puji Nih


Tu duit banyak amat yah :)

 




 

 
 
 
 
--------------------------------------------
stop speak, do act!
--------------------------------------------
http://nuriwan.com
http://elqolam.blogspot.com

04 November 2008

Acara 4 Mata Disuspen

KOMPAS

JAKARTA, SELASA — Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pusat memutuskan untuk menghentikan program acara Empat Mata yang ditayangkan Trans7. Penghentian tersebut karena acara itu dinilai tidak pantas dan melanggar standar program siaran.

"Sejak hari ini, Selasa, KPI memberikan sanksi administratif berupa penghentian selama satu bulan. Jika ingin disiarkan kembali, masa satu bulan tersebut untuk evaluasi dan konsolidasi," kata Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja, dalam jumpa pers di Kantor KPI, Jakarta, Selasa (4/11).

Sasa menuturkan, sebelumnya KPI telah memberikan teguran sebanyak tiga kali. Teguran tersebut ditayangkan pada 5 Mei 2007, 27 September 2007, dan 25 Agustus 2008. Namun, pada tayangan 29 Oktober 2008 dalam episode Sumanto, mantan pemakan mayat, kembali ditemukan pelanggaran. "Dalam salah satu adegan ada bintang tamu yang memakan hewan kodok hidup-hidup sehingga dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran," ujar Sasa.

Menurut Sasa, penghentian acara yang dipandu oleh Tukul Arwana itu juga berdasarkan keluhan yang sangat gencar dari masyarakat. Untuk itu, tuturnya, KPI menindaklanjuti aduan tersebut dengan berdasarkan pelanggaran isi siaran.

Selanjutnya, apabila Trans7 tidak memenuhi keputusan ini, KPI akan memberikan sanksi lebih lanjut sesuai ketentuan Undang-Undang Penyiaran. "Jika tetap dilanggar, KPI akan memberikan denda dan jika tetap dilanggar lagi akan diberikan pencabutan izin siaran," tuturnya.

 
 
 
 
--------------------------------------------
stop speak, do act!
--------------------------------------------
http://nuriwan.com
http://elqolam.blogspot.com

31 October 2008

Pilih Hidup yang mana?

Pilih Hidup Yang Mana?

Jakarta, Minggu 13 Juli 2008.

Pukul. 21.17 WIB @ My Small Room.

By: Abdul Latief

Malam sabtu yang lalu, seorang teman ikut menginap di kost-ku. Kami banyak berbincang mengenai problematika hidup dan segala pernak-perniknya. Perbincangan terus mengalir sambil sesekali menyeruput es soda susu yang dibeli di warung mie dekat kost ku. Kini akhirnya kami berbincang mengenai target hidup dan kegundahan yang banyak dirasakan orang termasuk diri kami.

Banyak orang yang ngoyo dalam mengejar hidup padahal seringkali mereka sendiri bingung atas apa yang mereka cari selama ini. Karyawan yang menjadi staff merasa gundah dengan posisinya sambil terus mendambakan naik gaji dan pangkat. Supervisor merasakan hal yang sama, para manager, General Manager, bahkan para komisaris dan direktur pun mungkin merasakan hal yang sama. Bahkan tak jarang dari kita menghalalkan segala cara untuk mencaraihnya. Jilat-menjilat, jegal-menjegal, korupsi, kolusi, nepotisme, adalah konsekuensi dari hal tersebut.

Dalam perbincangan ini aku menyitir sebuah cerita yang pernah diutarakan oleh Prof.DR. Jalaluddin Rahmat, mengenai Nelayan dan Master Ekonomi Harvard University. Dalam ceritanya, Kang Jalal – begitu Prof.Dr. Jalaluddin Rahmat sering disapa – mengisahkan tentang seorang nelayan yang setiap hari mencari ikan selama 5 jam kemudian pulang dengan hasil yang cukup untuk ditabung dan menghidupi istri dan dua anaknya.

Suatu kesempatan, selepas melaut sambil membawa hasil tangkapannya, sang nelayan bertemu dengan seorang Lulusan Terbaik Magister Bisnis Harvard University yang tengah meneliti tentang kehidupan nelayan di sana.

"Berapa lama Bapak bekerja dalam sehari dan bagaimana hasilnya?" tanya Sang Master mengawali perbincangan.

"Setiap hari saya bekerja selama 5 jam, sisa waktu yang ada saya habiskan untuk berkumpul dengan keluarga. Sedangkan ikan hasil tangkapan saya jual dan cukup untuk makan keluarga dan sisanya saya tabung bekal masa tua" jawabnya lugas.

"Mhmh.. Cuma Lima jam ya...! kalau saja bapak bisa bekerja selama 10 jam, maka penghasilan bapak bisa dua kali lipat dari sekarang, sehingga tabungan bapak bisa lebih banyak lagi." ujar Sang Master memberi saran.

"Kalau saya dapat penghasilan lebih banyak, lalu apa yang mesti saya lakukan selanjutnya ?" tanya sang nelayan sambil mengernyitkan dahi.

"Kalau penghasilan bapak lebih banyak, maka bapak bisa membeli kapal yang lebih besar, dengan demikian penghasilan bapak bisa jauh lebih besar dari saat ini.."

"Lalu setelah itu?" sang nelayan makin penasaran.

"Dengan penghasilan yang lebih besar bapak bisa membeli lagi beberapa kapal yang tentunya bisa terus melipat gandakan penghasilan bapak.."

"Lalu?" Nelayan masih penasaran.

"Setelah itu bapak bisa membeli membuat sebuah pabrik dengan omzet yang luar biasa besar, dengan demikian bapak bisa memiliki banyak karyawan, dan selanjutnya dengan hasil kerja keras bapak itu, bapak bisa menghabiskan sisa masa tua bapak bersama keluarga..." jelas Sang Master panjang lebar.

"Mhmm berapa lama ya.. saya harus bekerja keras dan menyita waktu keluarga saya hingga mencapai tujuan saya itu..?" tanya nelayan.

"Ya, bapak bisa mencapai itu, dengan waktu kira-kira 20-25 tahun sejak saat ini" jawab sang Master puas.

"Apa?!! Saya harus bisa menghabiskan 20-25 tahun untuk bekerja keras, baru saya bisa menikmati waktu bersama keluarga? Sudahlah bapak bawa saja teori bapak itu pada nelayan yang lain, tanpa harus bekerja keras selama 20-25 tahun, sekarangpun saya bisa menikmati hidup bersama keluarga" ungkap sang nelayan sambil meninggalkan Sang Master yang tengah termenung menelusuri teori briliannya yang malah membuatnya skeptis juga.

***

Membaca cerita ini, Anda akan memilih menjadi Nelayan atau mengikuti ide Sang Master? atau barangkali Anda mau memilih Paradigma hidup yang lain.

Seingat saya, Kang Jalal mengakhiri cerita itu dengan kesimpulan bahwa Sang Nelayan dan Sang Master tak ada bedanya. Mereka sama-sama EGOIS dengan tujuan hidupnya untuk bahagia dan mengejar obsesi pribadinya sendiri, hanya untuk diri dan keluarganya. Bedanya hanya status dan jumlah harta yang mereka raih. Adakah yang lebih berharga dan utama di raih?

Ada hal yang lebih utama untuk dilakukan Oleh Sang Nelayan dan Sang Master. Kalau saja saya menjadi nelayan, maka saya banyak waktu untuk melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Seandainya harus menjadi Pengusaha Sukses, maka banyak harta yang dan peluang yang saya bisa sumbangkan buat orang banyak. Jadi bukan sebagai apa kita hidup, melainkan Apa yang bisa kita berikan buat orang banyak.

Sebaiknya-baiknya manusia adalah yang paling besar kontribusinya buat orang lain.

Hidup Sekali Hiduplah yang berarti Lillahi Ta'ala.

Barangkali Anda punya pendapat berbeda dengan saya?

ABDUL LATIEF
Sales Training Instructor
Astra International,Tbk -Honda
 
Email    : abdul.latief@hso.astra.co.id
HP       : 0852 166 566 32
Tlp       : (021) 653 10 250 Ext.3546
Fax      : (021) 653 10 245
Hidup sekali, hiduplah yang berarti...

29 October 2008

Air, Darah & Otak... Apa hubungannya..?

KE KENTALAN DARAH DALAM TUBUH,

MENGAPA TERJADI....? ??

Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu "Mengapa harus minum
air putih banyak-banyak. .?"

Well, sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut bisa dijelaskan sbb:

Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air.

Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%.Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah :


OTAK DAN DARAH.. .!!!

Otak memiliki komponen air sebanyak 90%,
Sementara darah memiliki Komponen air 95%.

Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari.

Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok.

Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi. Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?

Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...?
Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri.Dari otak...?

Belum sampai segitunya (wihh...bayangkan otak kering gimana jadinya...), melainkan dari sumber terdekat :
Darah. !!

Darah yang disedot airnya akan menjadi kental.
Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.

Saat melewati ginjal [ tempat menyaring racun dari darah ]
Ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah.
Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.


Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan
400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah

Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak '
kan...?

Nah saat darah kental meng alir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros
mengkonsumsi makanan dan oksigen,

Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..[ ya wajarlah namanya juga kurang
makan...]


Bila ini ditambah dengan penyakit jantung [ yang juga kerjanya tambah berat
bila darah mengental... ],maka serangan stroke bisa lebih lekas datang

Sekarang tinggal anda pilih: melakukan
"investasi" dengan minum sedikitnya 8
gelas sehari- atau- "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.

Anda yang pilih...!


Forwardlah E-mail ini kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang Anda
cintai !

28 October 2008

Masih Adakah Kejujuran?

Dear All,

Oktober bulan ini aku dinas di Bali, saat mengobrak-abrik isi memori laptop-ku ternyata kutemukan secarik cerita ini yang hampir hilang terselip dalam ketiak laptopku saat dinas bulan juni sebelumnya. Untungnya ketemu juga, agak kurang menarik memang, tapi semoga berguna.

kunjungi juga: www.abdullatiefku.blogspot..com atau www.abdullatief.com

-- malam hari selalu penuh dengan inspirasi --

Masih adakah Kejujuran?

Hotel Bali Rani - Kuta Bali, Kamis 5 Juni 2008.

Pukul 22.12 WITA.

By: Abdul Latief

"Hattrick" pekikku di suatu pagi, bukan lantaran aku memasukan gol 3 kali berturut-turut ke gawang lawan saat bermain futsal, melainkan tiga hari berturut-turut naik Metro Mini (MM) 07 Jurusan Senen-Semper bersama komplotan pencopet.

Modus mereka cukup cerdik, satu tim terdiri dari 3-5 orang. Mereka naik MM yang sudah penuh dari ITC Cempaka Mas hingga Perempatan Tanco. Selama perjalanan itulah mereka beraksi. Satu orang berada di pintu depan, satunya berdiri di pintu belakang, sisanya berada di tengah berbaur dengan penumpang yang lain. Jadi banyak kesempatan untuk mereka beraksi.

Syukurnya aku sama sekali tidak menjadi korban, walau sempat menjadi incaran mereka. Firasat dan gerak-gerik mereka yang mencurigkan, Kasak-kusuk sambil meraba tas dan celana penumpang, untungnya aku segera sadar dan mulai waspada. Sempat terasa sangat takut, tapi Alhamdulillah Allah masih melindungiku.

Sempat ada salah satu penumpang yang berbisik pada rekan di sampingnya untuk waspada, akhirnya orang itu menjadi objek kemarahan para copet yang saat itu gagal meraih hasil dan menyalahkan orang itu sebagai penyebab kegagalan saat itu. Hampir saja lelaki pahlawan itu menjadi sasaran pemukulan para copet yang berang, untungnya ada polisi di sekitar lokasi para pencopet tersebut turun dari MM, hingga kekerasan tak terjadi.

Kejadian itu hanya sekelumit kisah yang tak lagi menarik untuk dibahas terlebih untuk kehidupan di kota besar seperti di Jakarta. Bagi Anda yang sering menggunakan Kereta api, bis kota, atau kendaraan umum lainnya bahkan kendaraan pribadi sekalipun, kejahatan sudah menjadi pemandangan lazim setiap hari. Hampir tak ada sisi kota yang lepas dari jamahan kejatan, kejahatan selalu muncul di setiap sudut kehidupan, sehingga kejujuran seakan menjadi barang langka bagi kehidupan. – Setidaknya itu kesimpulan yang diambil oleh rekanku yang sangat paranoid akibat beberapa kali menjadi korban kejahatan dan seringnya menyaksikan kejahatan di depan mata maupun melalui media massa.

Dimana bisa kutemukan kejujuran?

Kenapa kau sembunyi dan enggan menampakkan diri kepermukaan?

Apakah kau sudah enggan menelusup ke sanubari manusia?

Ataukah mereka yang enggan hidup bersamamu?

Barangkali kau hanya bisa kutemukan dalam selokan kumuh atau tong sampah?

Mungkin kau hanya bersembunyi di ketiak kitab suci atau bait syair sang pendakwah?

Jadi, masih adakah kejujuran ???

Setidaknya itu adalah beberapa bait kegundahan yang pernah seorang rekan tuliskan untukku. pada banyak hal aku tak setuju dengan bait syair itu, sebab aku sendiri masih sangat merasakan kejujuran yang kental di kehidupan ini, dan saya yakin andapun merasakan hal yang sama.

Sandal yang anda taruh di mesjid hanya sesekali saja hilang, selebihnya tak pernah hilang bukan? Dompet di tas anda mungkin pernah hilang, tapi tak selalu hilang bukan? Barang-barang di kantor dan rumah Anda mungkin sesekali hilang, tapi tak selalu hilang bukan? Itu bukti yang sederhana bahwa anda kejujuran dan kejahatan masih lebih banyak kejujuran, hanya saja kejahatan selalu memiliki efek yang tidak menyenangkan ketimbang kejujuran.

Satu yang tidak bisa kulupa mengenai kejujuran adalah kejadian di Denpasar ini. Sore aku dan atasanku tengah membeli oleh-oleh di salah satu toko oleh-oleh yang terkenal murah dan lengkap. Saat melihat-lihat beberapa souvenir, aku tertarik untuk mencoba baju batik motif Bali di kamar pas. Setelah mencoba dan merasa cocok aku masukan dalam keranjang belanja dan aku kembali berkeliling mencari beberapa barang titipan kawan dan adikku.

"Kepada Bapak Abdul Latief, diharap segera datang ke meja operator" terdengar dengan jelas panggilan atas namaku dari operator toko.

"aku? Wah cepat sekali atasanku selesai belanjanya.. ah.. 2 menit lagi lah.." pikirku tak menggubris panggilan itu.

"Kepada Bapak Abdul Latief, diharap segera datang ke meja operator sekarang juga.." panggilan tersebut dikumandangkan lagi hingga beberapa kali.

Kontan saja aku penasaran, akhirnya aku bergegas ke meja operator, di tengah perjalanan aku bertemu dengan atasanku "Bapak Manggil saya ke operator? " tanyaku.

"Enggak.. malah saya mau tanya kamu.." jawab atasanku.

Aku bergegas ke meja operator, ternyata aku baru sadar bahwa ternyata saat aku mencoba batik di kamar pas, tas kecilku yang berisi dompet, Handphone, kamera, Tiket pesawat dan barang berharga lainnya tertinggal di sana. Begitu kulihat isinya, tak ada secuilpun barang yang hilang. Dompetku yang berisi beberapa kartu kredit, ATM dan uang perjalanan dinasku tak seperpun hilang. LUAR BIASA...! ternyata Bali sebagai Pulau yang terkenal jujur terbukti benar-benar Jujur..! sekaligus menjadi bukti bahwa kejujuran masih sangat kental memadati kehidupan ini.

"Sangat mudah mencari orang yang pandai, cerdas, cekatan, ataupun tampan, tapi sulit mencari mereka yang masih memegang kejujuran. Dan itulah yang harus menjadi harta kita yang paling utama — Adopted from my Best Friend : Adi Damar Prasetya"

27 October 2008

Aku dan Mereka Berbeda

Dear All...

Lama tak menulis membuat jari kaku dan kreatifitas terbelenggu, akhirnya di Semarang ini aku berhasil membuahkan satu lagi tulisan diaryku. Tulisan ini tak bagus memang, tapi semoga bisa menjadi renungan agar kita lebih peduli pada sesama...

Jadi, bagi rekan2 yang menagih oleh2.. berikut ini oleh2 dari semarang...!

Nb: Kopendium tulisanku bisa juga diakses di www.latief15610.multiply.com atau www.abdullatiefku.blogspot.com atau www.abdullatief.com

Aku dan Mereka Berbeda

Inspirasi dari baby sitter di Mall Ciputra Semarang.

Semarang, 15 Juni 2008, 22.00 WIB.

Seminggu ini giliran jatahku dinas di Semarang, langit semarang mulai menghitam seiring mentari yang menyelinap malu-malu ke peraduannya. seorang rekan kantor menyambut hangat di Bandara, sambil memandu ke tempat parkir dan berbincang hangat, ia memberikan kunci mobil untuk operasional selama di Semarang.

Aku dan rekan Semarang berpisah di lahan parkir bandara, lantas bergegas menuju Salah satu hotel berbintang empat di wilayah simpang lima. 'Kamar Twin beds, no smoking floor dan berada di dekat lift' selalu menjadi pesananku setiap kali menginap di Hotel, maklum aku selalu menginap sekamar dengan atasanku sebagai mitra satu tim.

Setelah check in, menaruh barang, dan shalat, kini tiba saatnya kami mencari makan. Tak jauh lokasi yang kami pilih, mall yang bergandengan dengan hotel selalu menjadi pilihan kami makan malam di Semarang. Simple but powerful – mudah, murah, dan sekalian melampiaskan hobbi memperhatikan keragaman manusia.

Melangkahkan kaki di mall malam ini, membuat hatiku bergidik beberapa kali, bukan lantaran aura gaib Lawang Sewu sudah pindah ke mall ini, melainkan beberapa hari ini perasaanku begitu sensitive, hatiku sangat mudah terenyuh di minggu ini. Melihat pengemis di pinggir jalan, adalah keseharian yang tak terelakkan, tapi di minggu ini sebutir air mata menetes tak terbendung dari pelupuk mataku. Saat menjenguk kakaku yang tengah dirawat di RS, kembali mengalirkan beberapa tetes airmata seraya mengingat kenanganku yang menjenguk mendiang ayahku di RS dengan masih mengenakan seragam SD. Menyaksikan pengamen cilik, kondektur tua, ibu supir busway, nenek calo terminal senen, pedagang asongan dekat kost, dan beberapa kejadian lainnya cukup membuat hatiku tersentuh dan sedih di minggu ini. Bahkan pagi sebelum aku berangkat ke Semarang, aku sempat hadir dalam acara pernikahan sepupu laki-lakiku, kurasakan aura perpisahan yang sangat dengan sepupuku yang selama ini begitu dekat denganku, lagi-lagi kutuangkan setetes air mata di pernikahannya.

Malam ini saat makan di salah satu restoran frenchise nasional, kulihat di seberang mejaku, duduk sekelompok pengunjung dengan 4 orang dewasa, 3 orang anak kecil dan seorang remaja putri. Dilihat dari penampilan dan pola komunikasinya dapat kupastikan bahwa mereka adalah dua keluarga muda yang tengah menikmati makan malam di luar. Tak ada yang aneh dari penampilan mereka, tak cukup unik untuk menarik perhatianku yang tengah memperhatikan hilir mudik pengunjung mall dengan busana, polah, tingkah dan penampilan yang sangat beragam.

Sepuluh menit menunggu, pesanan belum juga datang, entah kenapa pandangan mataku kembali tertuju pada dua kaluarga tadi, ternyata ada seorang yang berbeda dan unik dari mereka. Semua anggota keluarga berkulit putih bersih, terawat penampilannya dan mengenakan busana trendi. Tidak demikian dengan remaja prutri yang duduk semeja dengannya, berkulit coklat gelap, tak ber make-up dan berseragam putih kusam dengan renda merah yang biasa menghiasi celemek. -- Anda pasti mengerti bahwa ia adalah sang baby sitter yang kini tengah menggejala di lingkungan hidup para keluarga muda Indonesia. Keberadaan mereka sedemikian menggejala bak cendawan di musim penghujan.

Semangat dan antusias obrolan tak pernah surut dari setiap anggota di meja makan tersebut, keakraban sedemikian terbangun dalam setiap canda dan tawa mereka. Hal inipun menambah kontras pemandangan dihadapanku sebab sang gadis hanya termangu dengan tatapan kosong berkaca memandangi setiap pengunjung mall yang lalu lalang melewati. Pikiran gadis itu menerawang dengan sejuta bersitan rasa sedih yang sekuat tenaga dia sembunyikan, aura kesedihannya telah bisa menyeruak dan menelusup ke dasar hatiku yang ikut menabar pesona kedukaan di hatiku.

Sesekali lamunannya terusik oleh polah bocah cilik yang selalu rewel menggelayutinya, ia layani rengekan bocah cilik dengan senyum paksaan dan kesabaran yang tersisa menghadapi kemanjaan sang bocah. Ia suapi sang bocah dengan telaten padahal sang gadis terlihat lapar tanpa satu makananpun yang disiapkan untuknya. Air liur dan asam lambung mungkin sudah menganak sungai di dirinya, tak satupun anggota keluarga yang menawarkan seremah makananpun untuknya. Sang nyonya hanya bisa mengawasi dengan tetap asyik memuatkan ribuan suapan nasi ke mulutnya yang tak berhenti mengunyah.

Entah kenapa sang bocah demikian menyebalkan malam itu, dia menangis dan menuntut layanan macam-macam, lagi-lagi sang nyonya hanya bisa berujar "kamu urus dong anakku itu dengan benar... masak sich bikin bocah diam saja kamu gak becus..!" sang nyonya kembali asyik dengan santapannya tanpa peduli bahwa sang bocah adalah anak kandungnya, dan belum sesuap nasipun ia tawarkan pada sang gadis.

Segunung ledakan atom kemarahan di diriku hampir saja tak terbendung, sungguh ingin kulabrak nyonya dan tuan yang tak berperikemanusiaan itu, ingin kulemparkan piring makanan ke muka mereka sambil kucaci maki mereka atas perlakuan diskriminasi mereka atas gadis itu. Rupanya akal sehatku masih kuasa menangkal amarah yang berlebih dariku.. "Astaghfirullah al Azhim.. balaslah segala kejahatan dengan hikmah kebaikan.. kalau kau balas perbuatan mereka dengan kekerasan, berarti aku sama saja bahkan lebih buruk dari mereka" bathinku menenangkan luapan emosi.

Bagiku pengalaman gadis baby sitter itu adalah bagian dari pelajaran hidup yang sangat berharga, malam ini aku berjanji bahwa tidak akan berbuat demikian pada siapapun sekalipun. Terlalu banyak manusia yang berbuat nista pada sesama. Kutak ingin menambah angka statistik keangkuhan sosial di zaman ini. Cukuplah bagiku menyaksikan dunia yang penuh dengan keacuhan social, manusia banyak yang buta mata hatinya dan tuli dengan kesombongannya. Menusia begitu asyik menikmati hidup tanpa peduli realita kesengsaraan yang ada dihadapannya.

Tidak hanya pada orang tua, bahkan benih keacuhan sosial mulai berkecambah lebih dini pada jiwa remaja dan anak kecil. Masih terngiang di benakku tentang kisah seorang rekan yang menceritakan anaknya yang selalu merengek jika ingin sesuatu, apapun yang diinginkan wajib dipenuhi, dan tidak akan berhenti merengek sebelum ayahnya memenuhi keinginannya. Suatu saat, kala anaknya merengek meminta mainan yang diinginkan, ia mencoba untuk meredam, kebetulan kala itu mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah lampu merah yang sarat dengan pengemis termasuk pengamen cilik. "De, coba Ade liat mereka, untuk makan saja mereka susah, harus capek ngamen seperti itu, mestinya Ade bersyukur bisa makan dan sekolah dengan cukup .." nasihat rekanku.

"Itukan mereka, salah sendiri mereka miskin, aku kan berbeda dengan mereka, aku punya papa yang bisa beliin aku mainan, jadi aku dan mereka gak sama.. pokoknya beliin mainan itu.." jawab anaknya di luar dugaan. Temankan hanya bisa mengurut dada, mencari jawab atas realita di matanya.

Aku dan kamu berbeda, kamu dan dia juga berbeda, pun dia dan kita berbeda, kita dan mereka pasti berbeda, perbedaan ada antara kita semua, tapi satu hal yang menyatukan kita.. bahwa kita adalah MANUSIA dengan semua anugerah kesempurnaan yang diberikan Allah untuk kita, maka manusiakanlah manusia, berlakukalah sebagai manusia yang dihendaki Allah sesuai amanat kemanusiaan NYA untuk kita. Wallahu A'lam.

ABDUL LATIEF
Sales Training Instructure
Astra International,Tbk -Honda
Email : abdul.latief@hso.astra.co.id
HP : 0852 166 566 32
Tlp : (021) 653 10 250 Ext.3546
Fax : (021) 653 10 245
Hidup sekali, hiduplah yang berarti...

Bls: Memecah Kebekuan Hati

Ada orang yang hanya tersenyum kala ia dapat meminta, ada orang yang hanya tersenyum kala ia menikmati apa yang ia miliki dan adalah yang terindah kala seseorang dapat tersenyum dengan apa yang ia beri.
Yang pertama pekerjaan sang papa yang tak mesti miskin dalam pandang raga, yang kedua dilakukan para pecinta harta dan yang ketiga milik para pecinta Sang Kaya

24 October 2008

Memecah Kebekuan Hati

Biasanya, setiap pagi kuselalu berdendang untuk mewarnai pagi ini dengan kegembiraan dan senyum. Entah kenapa pagi ini terasa berat untuk dijalani, mungkinkah karena tadi malam aku tidur terlau larut? ah... What Ever-lah, dan ternyata Tuhan 'menegurku' pagi ini. ku posting ke www.latief15610.multiply.com & www.abdullatief.com , jangan lupa kunjungi ya...

Memecah Kebekuan Hati

My Diary : Jakarta, 27 Maret 2008

By: Abdul Latief

"Hattrick….!" teriaku pagi ini. Tiga hari ini berturut-turut pergi ke kantor dengan Metro Mini, ternyata aku bertemu dengan pengamen yang sama. Seorang gadis kecil dengan kepingan pipih tutup botol sebagai alat musik,melantunan lagu yang masih sama dengan yang didendangkannya kemarin dan lusa yang lalu.

Pengamen memang bagian tak terpisahkan dari Metro Mini dan bus kota di Indonesia terutama Jakarta, tapi jika harus bertemu dengan pengamen yang sama, di tempat yang sama secara berturut-turut, bukankah itu suatu kebetulan yang luar biasa?

"Tak ada sesuatu yang diciptakan sia-sia, dan tak ada suatu kejadianpun yang terjadi tanpa direncanakan atau secara kebetulan, pun sepucuk daun kering yang jatuh dari pohon tak lepas dari takdir-NYA" begitu sekilas pesan yang kuingat dari guruku dulu.

Jika tak ada yang sia-sia, lalu apa makna pertemuanku dengan bocah pengamen ini? Bukankah lagu yang dinyanyikannya tak menyiratkan hikmah yang dalam untuk dipetik?; lantunan suaranya terdengar sumbang sumbang untuk dijadikan contoh cara bernyanyi yang baik – kalaupun banyak rekan-rekan yang mencibir suaraku saat melantunkan tembang Ebit G Ade, mestinya mereka membandingkan suaraku dengan bocah ini. He he... – , lalu apa?

Beberapa menit termenung tanpa makna, hingga berakhirlah tugasnya 'menghibur' para penumpang di Metro Mini ini. Kuperhatikan beberapa Mimik para penumpang, rupanya tak satupun dari mereka menebar senyum di pagi ini, mungkin lipatan senyum mereka telah terhimpit beban berat yang akan dijalani di tempat kerja mereka pagi ini; Rupanya Bocah pengamen ini tak berhasil menghibur para penumpang.

Ekspresi bocah itu kini tampak memelas sambil menyodorkan sebuah bungkus permen bekas yang digunakannya untuk merebut haknya sebagai pekerja seni di Metro Mini ini. Tak satupun penumpang yang peduli dengan juluran tangannya; jangankan selembar uang, sepatah kata maaf atau isyarat penolakan tak terlihat satupun, rupanya mereka 'asyik' meresapi tugas berat yang akan didapat hari ini; semua penumpang masih urung menebar senyum.

Sebuah rasa bersalah tiba-tiba datang padaku, "bukankah kemarin dan lusa kaupun berbuat hal yang sama padanya?; tak berbelas kasih apalagi menolong..! lihat bungkus permen itu masih kosong, segera ambil uang receh di kantongmu itu, bukankah memang sudah kau persiapkan untuk para pengamen dan pengemis seperti bocah itu?!!"

"Bukankah kalau aku berikan uang padanya berarti aku melestarikan budaya kemiskinan..???" batin ku berontak.

"STOP APPOLOGIZE...! berhenti memberi alasan!! dia semakin dekat denganmu. Bayangkan kalau dia adalah adik kandungmu, apakah kau tega membiarkannya seperti itu? Apakah secuil uluran rezekimu akan membuatmu miskin?"

"Tapi...."

"Sudahlah, jangan banyak alasan.. ini bukan lagi perkara sosial, politik, ekonomi, atau hal berat yang mesti diperdebatkan dan dibuat Undang-Undang. Melainkan sebuah bukti apakah kau masih memiliki hati nurani, apakah kau masih terketuk untuk membantu sesama yang membutuhkan?"

"Bukankah....."

"STOP....! jangan sok pintar kau, sekarang bungkusan itu ada dihadapanmu, kau akan memberi atau tak peduli?? Tuhan Maha Membalas setiap tindakan..."

Kuakhiri perdebatan batin ini dengan merogoh sekeping 'gopean' di kantong celanaku dan kumasukan ke dalam bungkusan kecil itu. "terima kasih pak.... " ujar bocah itu lirih.

Tak kusadari sebuncah senyum terkembang di bibirku, aliran darah melesat begitu deras di sekujur tubuhku, hatiku lapang, jiwaku terbang. Kurasakan bahagia tak terkira telah menyisihkan sesuatu yang tak berarti buatku untuk sesuatu yang sangat berarti buat orang lain.

Kuingat sebuah pesan yang selalu dilontakan mamaku pada kami anak-anaknya "Anak-anakku... Jangan biarkan rasa syukur pergi sesaatpun dari hati kalian, apa yang kita dapatkan saat ini pasti lebih baik dari banyak orang di sekitar kita. Sekalipun kita sangat menderita, yakinlah bahwa itu bagian dari nikmat yang terbaik dari Tuhan untuk kita"

"Anak-anakku... Jangan biarkan kebekuan hati menjauhkanmu dari perbuatan baik pada sesama. Baju bekas yang kau miliki, lembaran uang di kantongmu, senyum di wajahmu, tenaga di tubuhmu, ilmu di otakmu, rasa senang di hatimu, dan napas di jiwamu adalah modal hidupmu untuk berbuat kebaikan untuk sesama. Saat kau melakukannya, maka kau akan rasakan kebahagiaan yang tidak bisa orang lain rasakan. Dan Allah pasti punya perhitungan atas apa yang kau lakukan. Allah Maha Melihat Allah Mendengar, Allah Maha mengetahui..."

Rupanya hatiku telah beku selama ini, bocah kecil itulah yang memecah karang tajam yang menghalau belas kasihku. Sungguh Nikmat berbuat baik. Semoga aku akan menjadi orang yang selalu berbuat baik.

Kalau hari ini kugelontorkan sekeping uang, mestinya besok kusodorkan lembaran uang. Kalau hari ini kuberikan secarik baju bekas, esok mestinya kuberikan sebuah baju yang baru.

Kalau hari ini sebuah senyum kuberikan, maka esok mestinya kau buat orang lain tersenyum dan tertawa bahagia.

Tingkatkan terus nilai hidupmu. Hidup sekali, Hiduplah yang berarti...!

****

23 October 2008

Stella Award (award yg anyeh)

Baca deh... award yg super bego...


Sebuah penghargaan bernama Stella Award diberikan untuk gugatan paling "konyol" di AS. Mereka mendapat ganti rugi besar justru karena ulah dan kekonyolannya sendiri. Nama Stella Award sendiri berasal dari Stella Liebeck. Nenek berusia 81 tahun ini menumpahkan kopi yang dibelinya di McDonald ke dirinya sendiri. Liebeck menggugat McDonald dan dinyatakan menang. Kasus Stella mengilhami pemberian penghargaan ini.


Para kandidat untuk Stella award tahun ini adalah:

1. Kandidat pertama, Kathleen Robertson dari Texas. Robertson memenangkan ganti rugi dari dewan juri sebesar $780.000 setelah ia menggugat sebuah toko furnitur. Robertson menggugat toko itu karena pergelangan kakinya patah setelah tersandung anak laki-laki yang berlarian di dalam toko tersebut. Pemilik toko furnitur sangat terkejut terhadap isi putusan tersebut, mengingat anak lelaki yang "badung" itu adalah anak kandung Robertson sendiri.

2. Kandidat kedua adalah Carl Truman dari Los Angeles. Pria berusia 19 tahun ini memenangkan ganti rugi sebesar $74.000 dan biaya perawatan kesehatan setelah tetangganya melindas tangannya dengan Honda Accord. Truman tampaknya tidak menyadari bahwa tetangga pemilik Accord tersebut sedang berada di balik setir mobil itu ketika Truman berusaha mencuri velg mobil tersebut.


3. Kandidat nomor tiga adalah Terrence Dickson dari Bristol , Pennsylvania . Dickson sedang berusaha meninggalkan rumah yang baru saja ia rampok dengan melewati pintu garasi. Namun, ia tidak bisa membuat pintu garasi otomatis itu membuka ke atas karena pintu itu sedang rusak. Dickson juga tidak bisa kembali ke rumah itu. Karena ketika ia menutup pintu yang menghubungkan garasi dengan rumah, pintu itu terkunci secara otomatis. Karena keluarga pemilik rumah sedang berlibur, Dickson terkunci di garasi selama delapan hari dan bertahan hidup dengan meminum Pepsi dan sekantung besar makanan anjing yang ia temukan di garasi. Dickson--sang maling apes itu-- menggugat asuransi pemilik rumah dan mengklaim bahwa kejadian itu mengakibatkan ia menderita gangguan mental yang hebat. Dewan juri sepakat untuk memberi Dickson $500.000.


4. Kandidat keempat adalah Jerry Williams dari Little Rock , Arkansas ... Ia memenangkan ganti rugi $14.500 dan biaya perawatan kesehatan setelah bokongnya digigit oleh anjing tetangga . Anjing itu sendiri terantai di teras tetangganya. Award tersebut layak untuk diberikan kepada Williams. Juri berpendapat bahwa anjing tersebut mungkin sedikit terpengaruh oleh tindakan William yang saat itu menembaki anjing itu dengan senapan angin berkali-kali.


5. Kandidat kelima adalah Amber Carson dari Lancaster, Pennsylvania. Sebuah restoran di Philadelphia diperintahkan untuk membayar pada Carson sebesar $113.500 setelah ia terpeleset genangan minuman ringan yang menyebabkan tulang lengannya patah. Minuman itu bisa berada di lantai karena Carson melempar minuman itu pada pacarnya ketika bertengkar 30 menit sebelumnya.


6. Kandidat nomor enam adalah Kara Walton dari Delaware. Walton sukses menggugat sebuah night club ketika ia terjatuh ke lantai dari jendela WC umum night club tersebut. Kejadian itu menyebabkan patahnya dua gigi depan Walton. Kejadian itu terjadi ketika ia mencoba menyelinap melalui jendela WC demi menghindari membayar cover charge sebesar $3.50. Ia dianugerahi ganti rugi sebesar AS$12.000 dan biaya perawatan gigi.


7. Dan pemenangnya adalah.. Merv Grazinsky dari Oklahoma City. Pada November 2001, Grazinsky membeli sebuah mobil caravan Winnebago sepanjang sekitar 9 meter. Dalam perjalanan pertamanya menuju rumah, ia melewati jalan tol, menyetel radio sambil menyetir dengan kecepatan pada 70 mph. Lalu dengan santai, Grazinsky meninggalkan kursi supir ke belakang untuk membuat secangkir kopi . Tidak mengherankan, kendaraan itu keluar dari jalan tol, menabrak, dan terguling. Grazinsky menggugat Winnebago karena tidak menyebutkan dalam buku petunjuk bahwa kendaraan itu tidak bisa melakukannya,Ia mendapat ganti rugi sebesar $1.750.000.

Sebelum Aku Menikah (Just Kidding..)

Sebelum aku menikah, banyak hal yang memang harus dipersiapkan. Sebulan sebelum hari pernikahan itu tiba, aku berkali2 mondar mandir dari rumahku ke rumah calon istriku. Banyak hal yang harus dipersiapkan, banyak hal yang harus dibicarakan. Mulai dari persiapan gedung, materi acara, persiapan cetak undangan, catering dan lain2. Karena itu aku hampir tiap hari selalu ada di rumah calon istriku. Bahkan terkadang aku nginep di kamar kosong di lantai atas.

Siang itu di hari minggu, ketika semua ada di bawah, aku justru berada di kamar atas, berbaring seorang diri. Saat itu lah tiba2 Mia adik istriku membuka pintu dan masuk ke dalam kamarku.
Mia sangat cantik. Tidak begitu tinggi, tapi Mia memiliki body super bohay yang aduhai. Sangat sexy dan berkulit putih bersih. Saat masuk ke kamar, Mia mengenakan tank top dan ce lana pendek saja. Tentu saja aku kaget melihat penampilannya, apalagi Mia mengunci pintu dari dalam.

Aku lalu duduk di tepi tempat tidur, ketika kemudian Mia duduk di sampingku. "Mas. Aku mau ngomong sesuatu. Mungkin mas udah bisa menebak arah pembicaraanku. Mungkin mas sebenarnya udah tau isi hatiku terhadap mas."

Glek, ga salah berarti selama ini aku melihat Mia sering melirik2 ke arahku. Ternyata bukan cm aku yang GR. Ternyata dia sebenarnya suka ama aku. Mia lalu berkata lagi sambil meraba bahuku. "Aku mencintai mas sejak pandangan pertama. Aku ingin memiliki Mas, tapi itu tidak mungkin." "Mia, kau tau..." kataku, tapi Mia keburu memotong. "Aku tau Mas. Aku tau Mas lebih memilih mbak ku. Tapi mgkn cuma ini kesempatannya Mas. Aku akan memberikan semua untukmu, sekarang, Mas... sekarang atau tidak sama sekali. Karena hari2 berikutnya, mas sudah menjadi milik mbakku dan kesempatan itu tidak akan ada lagi." Nafasnya agak memburu. tatapan matanya nakal dan meminta.

Ya ampun, dia menawarkan dirinya untuk ku. Demi cintanya! Seketika itu juga aku langsung berdiri dan berlari keluar. Aku lari turun tangga. Nafasku ngos2an. Aku terus berlari menjauhi kamar, menuju pintu depan. Di kepalaku cm ada satu pikiran, aku
harus secepatnya menuju mobilku yg aku parkir di depan rumah.. Siapa sangka ketika pintu kubuka, di teras telah berkumpul semua orang.. Ada calon istriku, ada mertua ku, ada sepupu2, oma, opa, pokoknya semua ada di situ seperti menunggu ku.

Ayah mertua ku seketika memelukku "Kamu luar biasa. Kamu baru saja dites oleh Mia adekmu, dan kau lulus, nak.
Kau tidak tergoda!! Kamu bangga pada laki2 sepertimu." Calon istriku menitikkan air mata penuh cinta. Semua memelukku. Akhirnya aku dan calon istriku menikah dan kami hidup bahagia.

rahasia dari cerita ini :
Jangan bilang siapa2 ya, tapi aku lari secepatnya menuju mobil sebenarnya bukan karena menghindari Mia, tapi karena kondomku ketinggalan di dalam mobil.

20 October 2008

Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma

Setelah keluar dari Mizan, aku sering merindukan suasana berbagi ilmu dan wawasan yang tidak disertai hawa "gue benar, elo salah", mengajak berpikir holistis dan jauh dari "semangat menghakimi". Memang tidak salah jika Mizan terus berkembang. Tidak ada tempat bekerja yang benar-benar bernilai A dari segala sisi. Tapi, jika atmosfer intelektualitas yang kau cari, Mizan-lah salah satu tempat terbaik di Indonesia. Ya, kalau pun tidak bergabung dengan Mizan secara formal, baca buku-bukunya, ya. Hehe

Semoga Mizan tetap jaya.
=============================

Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma



Minggu, 12 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Ninuk Mardiana Pambudy & Bre Redana

Sukses film "Laskar Pelangi" dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah satu penerbit di bawah Mizan Publishing.

Kalau boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai orang," kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing.

"Kami juga senang karena—istilah 'ge-er'-nya teman-teman (di Mizan)—film ini Mizan sekali. Dalam arti, ada unsur agamanya, tetapi menekankan pada akhlak, pendidikan yang tidak mengukur anak-anak dari nilai akademis seperti dikatakan Pak Harfan, kepala sekolah di film itu, concern pada kemiskinan, menghibur tetapi berkualitas," tambah Ketua Yayasan Lazuardi Hayati yang mengelola sekolah Lazuardi di Cinere dan Sawangan (Depok), Cilandak, Jakarta Barat, Lampung, dan Solo itu.

Menurut Mira Lesmana yang bersama Mizan Publishing memproduksi film dengan sutradara Riri Riza ini, selama dua minggu pertama Laskar Pelangi sudah menyedot 1,5 juta penonton. Bukunya sendiri, menurut Haidar Bagir, sudah terjual 500.000-an kopi, sementara karangan Andrea Hirata yang lain, Sang Pemimpi dan Edensor, masing-masing terjual 300.000-an kopi, dan yang keempat, Maryamah Karpov, segera terbit. Keberhasilan Laskar Pelangi membuat Mizan Publishing mantap melangkahkan kaki masuk ke industri film dengan memproduksi Sang Pemimpi.

Buku bagus dan keberuntungan

"Menurut saya, keberhasilan buku ini adalah gabungan antara buku bagus, waktunya pas, dan juga keberuntungan," jelas Haidar.

Bagaimana cerita penerbitan Laskar Pelangi?

Buku ini dikirim ke Bentang di Yogya oleh teman Andrea Hirata yang karyawan Telkom. Buku itu sempat beberapa hari tidak dibaca karena pikiran karyawan Telkom tidak biasa menulis buku. Ternyata isinya sangat menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi.

Kami tahu buku ini bagus dan akan laku, tetapi tidak tahu bakal selaku ini. Lalu Andrea Hirata bertemu saya di Bandung, membicarakan kemungkinan memfilmkan cerita itu. Terus terang waktu itu saya tidak terlalu optimis. Buku sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan Sinema (kemudian menjadi Mizan Production) baru berpengalaman membuat acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?

Kemudian buku itu diangkat dalam acara Kick Andy (di Metro TV) dan meledak. Sebelumnya, buku-buku kami juga diangkat dalam acara itu, tetapi tidak meledak seperti Laskar Pelangi.

Bagaimana menjadi film?

Setelah buku meledak, kira-kira setahun lalu, mulai banyak sutradara menanyakan apakah akan difilmkan. Kami jadi optimis. Kami kontak Andrea dan dengan cepat memutuskan menyerahkan kepada Mira Lesmana dan Riri Riza karena mereka sukses menggarap Petualangan Sherina. Kami merasa cerita ini sedikit seperti film itu, ada menghiburnya, tetapi tidak kehilangan keindahan. Mizan tidak sendirian sebagai investor, saya mengajak Bachtiar Rachman, teman saya yang membikin sekolah Lazuardi Cordova di Jakarta Barat.

Keberuntungan Laskar Pelangi?

Keberuntungannya karena diangkat dengan sangat baik oleh Kick Andy, besok paginya sudah ada beberapa orang dari toko buku antre di depan gudang kami. Tetapi, tetap yang paling utama memang bukunya bagus.

Agama cinta

Perbincangan dengan Haidar berlangsung di toko buku sekaligus kantor Mizan Publishing di Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Toko buku itu, demikian Haidar, lebih dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi berbagai komunitas, seperti musik, sastra, film, dan para ibu muda.

Tahun 1982, saat masih kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, bersama dua temannya Haidar mendirikan Mizan. Setahun kemudian mereka mulai menerbitkan buku. Kini, setelah seperempat abad, Mizan Publishing memiliki 12 unit usaha dan membagi saham untuk karyawan senior dan melalui koperasi.

Bila awalnya Mizan menerbitkan buku tentang agama, sejak tahun 1990 jenis buku yang diterbitkan diperluas. Buku agama saat ini 20 persen dari sekitar 1.000 judul per tahun. "Mau cari buku resep masakan ada, buku tentang dekorasi, self help, sampai pendidikan," tutur penerima penghargaan Best CEO 2008 versi majalah Swa ini.

Sikap dan pandangan hidup Haidar dalam mengembangkan pemikiran yang mengutamakan modernasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta pembangunan peradaban yang berkeadilan dan berorientasi sosial di atas landasan spiritual yang positif amat mewarnai Mizan.

"Kami tidak tertarik menerbitkan buku yang berhubungan dengan pendekatan syariah karena biasanya pendekatan hukum menyebabkan eksklusivisme. Bukan hanya antara orang Islam dengan orang di luar Islam, tetapi juga internal Islam sendiri. Atau buku yang memojokkan kelompok lain dari sudut pandang keagamaan.

"Sebaliknya, kami menerbitkan buku dari semua sumber. Ekstremnya, ada bukunya orang Muslim, buku yang ditulis pastor, dan juga yang mungkin dianggap sekuler, seperti Agama Cinta yang dekat dengan advokasi tentang civil religion. Sebetulnya buku itu sangat kontroversial karena mau mengatakan, agama itu sebetulnya cinta," papar penerima tiga beasiswa Fulbright.

Kini dia sedang menyelesaikan dua buku berjudul Islam Agama Cinta; satu ditulis populer dan yang lain secara akademis dengan dilengkapi riset.

"Buku ini bukan hanya untuk orang luar, tetapi untuk orang Muslim sendiri. Ahli fenomenologi agama biasanya membagi agama ke dalam agama berorientasi nomos, hukum, yang dalam Islam disebut syariah; dan berorientasi eros, cinta.

"Biasanya fenomenologi tradisional memasukkan Islam ke dalam agama berorientasi nomos, hukum. Tetapi, melihat fenomenologi yang lebih belakangan sebetulnya kita harus melihat Islam sebagai agama yang tidak kurang-kurang berorientasi cinta.

"Saya ingin menunjukkan kepada kaum muslimin sendiri, di atas semuanya prinsip Islam adalah cinta. Hanya itu yang bisa membuat Islam terbuka karena pendekatannya kepada orang lain adalah kebaikan hati, berpikir positif, prasangka baik."

Sementara, menurut Haidar banyak kaum muslimin yang menekankan keberagamaan pada syariah.

"Saya tidak mengatakan syariah tidak penting, tetapi harus mengacu pada prinsip Islam agama cinta. Kalau melihat agama hanya bersifat syariah, akan membuat orang menjadi eksklusif. Cinta itu merangkul semua dan membuat prasangka baik: semua orang sama baiknya, sama benarnya, sama salahnya dengan kita," jelas Haidar.

Doktor filsafat Islam dari Universitas Indonesia ini juga membahas hal yang untuk beberapa pihak masih kontroversial. Misalnya, kekerasan dan perang.

"Islam agak khas dalam membuka peluang penggunaan kekerasan dan perang. Dalam buku ini saya tunjukkan betul, di atas semua itu prinsipnya tetap cinta. Perang dalam Islam hanya boleh dilakukan untuk melawan penindasan dan sifatnya defensif. Pada saat penindas siap duduk di meja perundingan, perang harus dihentikan.

"Dengan segala keterbatasan ilmu saya dalam hal ini, saya ingin menunjukkan kita harus melakukan paradigm shift, perubahan paradigma. Melihat Islam dari agama berorientasi hukum menjadi agama berorientasi cinta di mana hukum menjadi sarana kita memastikan setiap orang mendapatkan kasih sayang," jelas Haidar.

Lalu juga tentang neraka. "Prinsip kasih sayang itulah yang menjadi prinsip neraka. Neraka pada dasarnya bukan Tuhan menghukum manusia, tetapi apa yang dari Tuhan dapat dipersepsi berbeda oleh manusia," tambah dia.

Haidar mencontohkan segelas air dingin yang menyegarkan untuk orang sehat dapat menyiksa untuk orang sakit.

"Itu saya coba ungkapkan untuk menunjukkan Tuhan tidak membuat sesuatu yang pada dirinya sendiri menyiksa, tetapi karena manusia tidak hidup dengan cara yang menyebabkan dia mendapat kenikmatan. Ini memang kontroversial, tetapi saya secara konsisten ingin membuktikan hal-hal tersebut."