31 October 2008

Pilih Hidup yang mana?

Pilih Hidup Yang Mana?

Jakarta, Minggu 13 Juli 2008.

Pukul. 21.17 WIB @ My Small Room.

By: Abdul Latief

Malam sabtu yang lalu, seorang teman ikut menginap di kost-ku. Kami banyak berbincang mengenai problematika hidup dan segala pernak-perniknya. Perbincangan terus mengalir sambil sesekali menyeruput es soda susu yang dibeli di warung mie dekat kost ku. Kini akhirnya kami berbincang mengenai target hidup dan kegundahan yang banyak dirasakan orang termasuk diri kami.

Banyak orang yang ngoyo dalam mengejar hidup padahal seringkali mereka sendiri bingung atas apa yang mereka cari selama ini. Karyawan yang menjadi staff merasa gundah dengan posisinya sambil terus mendambakan naik gaji dan pangkat. Supervisor merasakan hal yang sama, para manager, General Manager, bahkan para komisaris dan direktur pun mungkin merasakan hal yang sama. Bahkan tak jarang dari kita menghalalkan segala cara untuk mencaraihnya. Jilat-menjilat, jegal-menjegal, korupsi, kolusi, nepotisme, adalah konsekuensi dari hal tersebut.

Dalam perbincangan ini aku menyitir sebuah cerita yang pernah diutarakan oleh Prof.DR. Jalaluddin Rahmat, mengenai Nelayan dan Master Ekonomi Harvard University. Dalam ceritanya, Kang Jalal – begitu Prof.Dr. Jalaluddin Rahmat sering disapa – mengisahkan tentang seorang nelayan yang setiap hari mencari ikan selama 5 jam kemudian pulang dengan hasil yang cukup untuk ditabung dan menghidupi istri dan dua anaknya.

Suatu kesempatan, selepas melaut sambil membawa hasil tangkapannya, sang nelayan bertemu dengan seorang Lulusan Terbaik Magister Bisnis Harvard University yang tengah meneliti tentang kehidupan nelayan di sana.

"Berapa lama Bapak bekerja dalam sehari dan bagaimana hasilnya?" tanya Sang Master mengawali perbincangan.

"Setiap hari saya bekerja selama 5 jam, sisa waktu yang ada saya habiskan untuk berkumpul dengan keluarga. Sedangkan ikan hasil tangkapan saya jual dan cukup untuk makan keluarga dan sisanya saya tabung bekal masa tua" jawabnya lugas.

"Mhmh.. Cuma Lima jam ya...! kalau saja bapak bisa bekerja selama 10 jam, maka penghasilan bapak bisa dua kali lipat dari sekarang, sehingga tabungan bapak bisa lebih banyak lagi." ujar Sang Master memberi saran.

"Kalau saya dapat penghasilan lebih banyak, lalu apa yang mesti saya lakukan selanjutnya ?" tanya sang nelayan sambil mengernyitkan dahi.

"Kalau penghasilan bapak lebih banyak, maka bapak bisa membeli kapal yang lebih besar, dengan demikian penghasilan bapak bisa jauh lebih besar dari saat ini.."

"Lalu setelah itu?" sang nelayan makin penasaran.

"Dengan penghasilan yang lebih besar bapak bisa membeli lagi beberapa kapal yang tentunya bisa terus melipat gandakan penghasilan bapak.."

"Lalu?" Nelayan masih penasaran.

"Setelah itu bapak bisa membeli membuat sebuah pabrik dengan omzet yang luar biasa besar, dengan demikian bapak bisa memiliki banyak karyawan, dan selanjutnya dengan hasil kerja keras bapak itu, bapak bisa menghabiskan sisa masa tua bapak bersama keluarga..." jelas Sang Master panjang lebar.

"Mhmm berapa lama ya.. saya harus bekerja keras dan menyita waktu keluarga saya hingga mencapai tujuan saya itu..?" tanya nelayan.

"Ya, bapak bisa mencapai itu, dengan waktu kira-kira 20-25 tahun sejak saat ini" jawab sang Master puas.

"Apa?!! Saya harus bisa menghabiskan 20-25 tahun untuk bekerja keras, baru saya bisa menikmati waktu bersama keluarga? Sudahlah bapak bawa saja teori bapak itu pada nelayan yang lain, tanpa harus bekerja keras selama 20-25 tahun, sekarangpun saya bisa menikmati hidup bersama keluarga" ungkap sang nelayan sambil meninggalkan Sang Master yang tengah termenung menelusuri teori briliannya yang malah membuatnya skeptis juga.

***

Membaca cerita ini, Anda akan memilih menjadi Nelayan atau mengikuti ide Sang Master? atau barangkali Anda mau memilih Paradigma hidup yang lain.

Seingat saya, Kang Jalal mengakhiri cerita itu dengan kesimpulan bahwa Sang Nelayan dan Sang Master tak ada bedanya. Mereka sama-sama EGOIS dengan tujuan hidupnya untuk bahagia dan mengejar obsesi pribadinya sendiri, hanya untuk diri dan keluarganya. Bedanya hanya status dan jumlah harta yang mereka raih. Adakah yang lebih berharga dan utama di raih?

Ada hal yang lebih utama untuk dilakukan Oleh Sang Nelayan dan Sang Master. Kalau saja saya menjadi nelayan, maka saya banyak waktu untuk melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Seandainya harus menjadi Pengusaha Sukses, maka banyak harta yang dan peluang yang saya bisa sumbangkan buat orang banyak. Jadi bukan sebagai apa kita hidup, melainkan Apa yang bisa kita berikan buat orang banyak.

Sebaiknya-baiknya manusia adalah yang paling besar kontribusinya buat orang lain.

Hidup Sekali Hiduplah yang berarti Lillahi Ta'ala.

Barangkali Anda punya pendapat berbeda dengan saya?

ABDUL LATIEF
Sales Training Instructor
Astra International,Tbk -Honda
 
Email    : abdul.latief@hso.astra.co.id
HP       : 0852 166 566 32
Tlp       : (021) 653 10 250 Ext.3546
Fax      : (021) 653 10 245
Hidup sekali, hiduplah yang berarti...

No comments: