Memecah Kebekuan Hati
My Diary :
By: Abdul Latief
"Hattrick….!" teriaku pagi ini. Tiga hari ini berturut-turut pergi ke kantor dengan Metro Mini, ternyata aku bertemu dengan pengamen yang sama. Seorang gadis kecil dengan kepingan pipih tutup botol sebagai alat musik,melantunan lagu yang masih sama dengan yang didendangkannya kemarin dan lusa yang lalu.
Pengamen memang bagian tak terpisahkan dari Metro Mini dan bus kota di Indonesia terutama Jakarta, tapi jika harus bertemu dengan pengamen yang sama, di tempat yang sama secara berturut-turut, bukankah itu suatu kebetulan yang luar biasa?
"Tak ada sesuatu yang diciptakan sia-sia, dan tak ada suatu kejadianpun yang terjadi tanpa direncanakan atau secara kebetulan, pun sepucuk daun kering yang jatuh dari pohon tak lepas dari takdir-NYA" begitu sekilas pesan yang kuingat dari guruku dulu.
Jika tak ada yang sia-sia, lalu apa makna pertemuanku dengan bocah pengamen ini? Bukankah lagu yang dinyanyikannya tak menyiratkan hikmah yang dalam untuk dipetik?; lantunan suaranya terdengar sumbang sumbang untuk dijadikan contoh cara bernyanyi yang baik – kalaupun banyak rekan-rekan yang mencibir suaraku saat melantunkan tembang Ebit G Ade, mestinya mereka membandingkan suaraku dengan bocah ini. He he... – , lalu apa?
Beberapa menit termenung tanpa makna, hingga berakhirlah tugasnya 'menghibur' para penumpang di Metro Mini ini. Kuperhatikan beberapa Mimik para penumpang, rupanya tak satupun dari mereka menebar senyum di pagi ini, mungkin lipatan senyum mereka telah terhimpit beban berat yang akan dijalani di tempat kerja mereka pagi ini; Rupanya Bocah pengamen ini tak berhasil menghibur para penumpang.
Ekspresi bocah itu kini tampak memelas sambil menyodorkan sebuah bungkus permen bekas yang digunakannya untuk merebut haknya sebagai pekerja seni di Metro Mini ini. Tak satupun penumpang yang peduli dengan juluran tangannya; jangankan selembar uang, sepatah kata maaf atau isyarat penolakan tak terlihat satupun, rupanya mereka 'asyik' meresapi tugas berat yang akan didapat hari ini; semua penumpang masih urung menebar senyum.
Sebuah rasa bersalah tiba-tiba datang padaku, "bukankah kemarin dan lusa kaupun berbuat hal yang sama padanya?; tak berbelas kasih apalagi menolong..! lihat bungkus permen itu masih kosong, segera ambil uang receh di kantongmu itu, bukankah memang sudah kau persiapkan untuk para pengamen dan pengemis seperti bocah itu?!!"
"Bukankah kalau aku berikan uang padanya berarti aku melestarikan budaya kemiskinan..
"STOP APPOLOGIZE..
"Tapi...."
"Sudahlah, jangan banyak alasan.. ini bukan lagi perkara sosial, politik, ekonomi, atau hal berat yang mesti diperdebatkan dan dibuat Undang-Undang. Melainkan sebuah bukti apakah kau masih memiliki hati nurani, apakah kau masih terketuk untuk membantu sesama yang membutuhkan?"
"Bukankah....
"STOP....! jangan sok pintar kau, sekarang bungkusan itu ada dihadapanmu, kau akan memberi atau tak peduli?? Tuhan Maha Membalas setiap tindakan..."
Kuakhiri perdebatan batin ini dengan merogoh sekeping 'gopean' di kantong celanaku dan kumasukan ke dalam bungkusan kecil itu. "terima kasih pak.... " ujar bocah itu lirih.
Tak kusadari sebuncah senyum terkembang di bibirku, aliran darah melesat begitu deras di sekujur tubuhku, hatiku lapang, jiwaku terbang. Kurasakan bahagia tak terkira telah menyisihkan sesuatu yang tak berarti buatku untuk sesuatu yang sangat berarti buat orang lain.
Kuingat sebuah pesan yang selalu dilontakan mamaku pada kami anak-anaknya "Anak-anakku.
"Anak-anakku.
Rupanya hatiku telah beku selama ini, bocah kecil itulah yang memecah karang tajam yang menghalau belas kasihku. Sungguh Nikmat berbuat baik. Semoga aku akan menjadi orang yang selalu berbuat baik.
Kalau hari ini kugelontorkan sekeping uang, mestinya besok kusodorkan lembaran uang. Kalau hari ini kuberikan secarik baju bekas, esok mestinya kuberikan sebuah baju yang baru.
Kalau hari ini sebuah senyum kuberikan, maka esok mestinya kau buat orang lain tersenyum dan tertawa bahagia.
Tingkatkan terus nilai hidupmu. Hidup sekali, Hiduplah yang berarti...!
No comments:
Post a Comment