
Asal Goblek* 2, di Pulau Dewata.
My Diary : Kuta Bali, 8 November 2007
* Istilah ini saya dapat dari rekan salesman Honda di Jakarta yang sering kumpul-kumpul di sela pekerjaan mereka keliling menawarkan barang. Obrolan tanpa tema saat mereka kumpul inilah yang mereka sebut sebagai ‘asal goblek’.
“Bapak kan sekarang sepertinya tengah gencar memperdalam konsep tentang bisnis, dan lagi-lagi sepertinya bapak tengah merintis sebuah usaha, apalagi bapak beberapa tahun ini akan pension, tentunya sudah sangat terpikir sebuah aktifitas untuk mengisi masa pasca pension. kira-kira usaha apa yang akan bapak buat nanti??” pertanyaan ini membuka ‘asal goblek’ bersama atasan saya pagi ini saat menuju lokasi training di denpasar. – baca asal goblek 1 untuk memperjelas alur diary ini.
“Saya ingin membangun bisnis restoran tif?” jawabnya.
Ups…! Kemarin katanya bisnis restoran penuh dengan resiko, tapi Kok sekarang malah mau buat restoran?? Oh.. aku paham bahwa beberapa pertanyaan kritisnya kemarin merupakan sebuah proses alur berpikir untuk membuat analisa bisnis dan menyusun konsep manajemen resiko mengenai bisnis restoran yang ingin dirintisnya nanti. Sungguh cerdas memang..!. Oya, saya teringat, bahwa atasan saya pernah bercerita tentang rencana membuat sebuah restoran di daerah
“Bapak, kita
“Saat ini memang saya tidak bisnis apa2 diluar aktifitas bekerja saya di perusahaan ini. Tapi sejak dahulu sudah beragam bisnis sudah saya jalani, dari mulai mengelola sebuah game station, menjadi agen minyak tanah, supplier ATK, bisnis Konveksi, dan beberapa bisnis lainnya. Hanya saja karena saya merangkap sebagai karyawan maka bisnis tersebut saya percayakan pada orang sedangkan saya tidak punya banyak waktu untuk mengelolanya maka bisnis tersebut tidak ada yang bertahan sampai sekarang” jawabnya. HORE..! pagi-pagi saya sudah mendapat ilmu baru, bahwa untuk sukses dalam suatu bidang, maka kita harus FOKUS..!
“Mengapa memilih bisnis itu? dan Konsep Hidup apa yang diinginkan dari bisnis tersebut?” kembali saya meracik ramuan asal goblek baru.
“Begini tif, saya ingin segala hal yang saya lakukan timbul dari hati dan kesenangan, dan patut diingat bahwa kesenangan tersebut bukan hanya untuk diri kita melainkan untuk orang lain, minimal akan menularkan kesenangan buat anak, istri dan orang terdekat kita. Kalau sudah demikian, tidak ada lagi keterpaksaan dalam hidup dan sekalipun kita gagal di dalamnya kegagalan tersebut tidak akan membuat kita sengsara”. Jawabnya padaku.
”Apalagi pak” dasar nakal, aku kembali bertanya.
Tapi beliau menjawabnya dengan senyuman dan antusias “tif, sesuatu yang besar terkadang muncul dari sesuatu yang kecil tapi memiliki keunikan dan visi yang besar, mengerti maksud saya?”.
Saya mengangguk tapi belum paham sepenuhnya, oleh karenanya saya kembali bertanya “misalnya pak???” belum sempat terjawab eh ternyata kami sudah sampai di depan pintu gerbang lokasi training, tapi setidaknya ini sebuah PR buat saya untuk menuntaskan telaah atas jawaban tadi.
-- Huahhh…. Ngantuk juga, ups.. kulihat jarum jam di tangan kiriku semuanya bersatu di angka 12, pantas saja mataku mulai terkantuk ternyata pagi sudah mulai membuncah di ufuk fajar sana. ya sudah tiba saatnya unutk istirahat, sebab besok aktifitas trainingku akan mulai lagi. ---
EUREKA…! Hari ini sangat bermakna buatku.***
No comments:
Post a Comment