17 October 2008


Helicopter View*

Hotel Jayakarta Sengggi Beach, 00.20 WITA.

*Tulisan ini terinspirasi saat saya diperkenankan keliling kota Mataram dengan menggunakan Helicoper Polda Mataram, Gratis…!. Kok bisa sich? baca aja deh, diary saya ini…!

Pesawat sebagai transportasi umum

Pernah naik pesawat? Tentunya banyak dari kita sudah pernah merasakan naik burung besi ini, apalagi dengan adanya persaingan yang ketat antara industri penerbangan dan di dukung oleh kebutuhan untuk bertransportasi yang hemat waktu dan tenaga, maka pesawat telah menjadi salah satu alternatif bertransportasi yang digemari oleh masyarakat. Jadi jangan heran jika ada penumpang pesawat yang mengenakan sandal jepit dan kaos oblong butut, atau bahkan ‘nyeker’ (red: tidak beralas kaki) saat naik pesawat.

Kalau pesawat bukan lagi kendaraan yang eksklusif, lalu adakah kendaraan lainnya yang lebih eksklusif? Limosine adalah salah satunya, tapi dalam konteks Indonesia, rasanya limosine tak lagi menyenangkan apalagi jika dikendarai di jalur Ibukota yang macet luar biasa.

Bagi para pebisnis, dimana waktu merupakan harta yang paling berharga, mutlak membutuhkan kendaraan yang efisien, lalu lintas padat di negeri ini kerap kali menghambat aktifitas mereka, sehingga jalur Udara, menjadi salah satu alternative buat mereka, dan helicopterlah yang dijadikan solusinya.

Bagi mereka yang jeli dan berkantong tebal, jasa transportasi helicopter menjadi bisnis yang menggiurkan, sehingga jangan aneh kalau sekarang ini di saat jam sibuk helicopter sering berseliweran di langit ibukota, dan banyak sekali gedung di Jakarta di lengkapi dengan ‘Helli pad’. Bahkan di Bandara Soekarno hatta disediakan lokasi khusus untuk helicopter komersial. Dan ini semua telah menjawab kebutuhan efisensi waktu dan kenyamanan buat para pebisnis, bahkan ke depan penggunaan helicopter akan semakin banyak lagi.

Sayangnya helicopter belum bisa dinikmati oleh masyarakat umum di Indonesia, seperti halnya bus kota atau pesawat terbang. Maklumlah sebab harga sekali terbangnya bisa dibilang sangat mahal bagi masyarakat umum, bayangkan untuk sekali terbang saja kita harus merogoh kocek kita sebesar 11 Juta rupiah per jam…!

Pengalaman pertama naik Helicopter.

Jika harus mengeluarkan uang sejumlah itu, kapan ya, saya bisa terbang dengan Helicoper? Syukurnya, Tuhan selalu saja memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan untuk saya. Termasuk hari ini, tanpa saya duga sebelumnya, ternyata saya ditawarkan untuk naik helicopter polisi oleh rekan saya yang memiliki hubungan baik dengan kepolisian. Tidak ada moment khusus memang, penerbangan ini hanyalah aktifitas rutin untuk merawat helicopter Polda. Dalam prosedur perawatan, helicopter harus diterbangkan paling tidak dua kali dalam seminggu, jadi dalam moment ini biasanya mereka mengundang kami dari Astra Motor untuk ikut keliling kota mataram dengan Gratis..!

Saat ditawari, kami agak ragu apakah ini sebuah candaan atau serius, tapi ternyata tawaran ini bukan candaan, selesai training kami (saya dan atasan saya) diboyong ke hanggar Polda Mataram, di sana sudah bersiap sebuah helicopter dengan beberap crew yang sudah siap terbang. Dari kejauhan terlihat seorang lelaki setengah baya melambaikan tangan sambil mengajak ”ayo mas, segera..!” rupanya kami sudah ditunggu. ”kami ini seperti orang penting saja, sampai ditunggu begini..” batin saya.

Tanpa ragu-ragu kami langsung parkir mobil dan berjalan menuju helicopter, sebelumnya kami bersalaman dan berkenalan dengan penuh keakraban. Rupanya yang menyambut kami itu polisi yang berpangkat agak tinggi juga,pak Basuki namanya, isunya sich dia itu calon kuat kapolres Mataram.

Seperti layaknya anak kecil yang diberikan mainan baru, kami langsung saja gembira luar biasa dan menyambut dengan gaya norak yaitu berpose di depan kamera dengan gaya yang penuh keceriaan. Selanjutnya kami dipandu untuk naik ke helicopter dan dibantu mengenakan sabuk pengaman dan headset.

Selanjutnya semua penumpang naik, kini pesawat tersebut telah terisi oleh lima orang yaitu seorang pilot, copilot, dan teknisi, ditambah dengan kami berdua. Setelah diberikan aba-aba, kini tiba saatnya kami terbang. Mesin mulai dinyalakan, baling-baling mulai berputar dan semakin kencang, yang dilanjutkan dengan mengudara ke angkasa..!

Bagaimana rasanya? Yang jelas, hampir sama dengan menaiki pesawat terbang komersil, hanya saja kami lebih bebas melihat suasana luar, terbang lebih rendah, dan yang pasti agak menegangkan. Api secara keseluruhan nikmat banget deh..

Rute yang kami tempuh tidaklah jauh, dimulai dengan penerbangan ke bandara untk isi bahan bakar, disana kami sempat banyak mengobrol selama bahan bakar terisi, ternyata jumlah aftur – bahan bakar pesawat—yang diisikan lumayan banyak, 800L..! jadi lumayan membutuhkan waktu. Menurut cerita yang kami dengar dari para crew, bahwa untuk satu jam penerbangan dibutuhkan 200L Aftur. Setelah bahan bakar terisi, barulah kami berkeliling kota Mataram dan melintasi pinggiran pantai di pulau Lombok, sungguh indah pemandangan dari atas angkasa.

Penerbangan kami tidak begitu lama, totalnya sekitar 20 menit kemudian kami kembali, tentunya saya bersyukur bahwa bisa kembali mendarat dengan selamat. Selanjutnya kami melanjutkan acara dengan makan bersama seluruh crew di Foorcourt belakang kantor Gubernur Mataram. Acara santap bersama ini terasa sangat menyenangkan, entah karena kondisi hati kami sedang senang, atau memang obrolan kami yang semakin menarik dan akrab. Setelah semuanya merasa puas, akhirnya kami berpisah dengan saling berjabat tangan dan bertukar kartu nama dengan penuh keakraban dan rasa terima kasih.

Helicopter View.

Pengalaman terbang dengan Helicopter ini menyisakan kenangan tersendiri yang tidak bisa dilupakan. Sesampainya di kamar Hotel, saya langsung mentransfer isi kamera berupa pose foto dan rekaman video penerbangan kami. Melihat semua kenangan ini, membuat saya sedikit termenung memikirkan suatu hal yang penting untuk diambil hikmah.

Dalam renungan ini, saya membandingkan antara kondisi di darat dengan di udara. Saat di udara saya melihat segala sesuatunya menjadi kecil, tapi terasa menjadi lebih luas. Apa yang belum pernah saya lihat dari bawah, kita bisa terlihat dari atas, lokasi suatu tempat yang agak sulit dicapai saat di darat, kini terasa mudah dijangkau dan jelas terlihat bagaimana mencapainya.

Pandangan kita saat di darat, terasa sangat terbatas, apa yang kita lihat, tidak pernah bisa mencerminkan kondisi yang sesungguhnya. Misalkan saja, saat terjebak macet, kita tidak pernah tahu apa penyebabnya, titik mana dimulainya macet, sampai mana macet terjadi, dan jalan mana saja yang tidak macet? Melalui pandangan dari helicopter, semua akan diketahui secara jelas.

Saat tersesat, alat apa yang dapat membantu kita menemukan lokasi tujuan? Peta..! ya, peta dapat membantu kita menemukan tujuan, karena semuanya disusun secara jelas dan mencerminkan kondisi sesungguhnya. Lantas saat pembuatan peta, apakah hal tersebut bisa dilakukan melalui sudut pandang darat? Tidak akan..! sebab pola pembuatan peta mengacu pada sudut pandang dari angkasa, setiap lokasi disusun berdasarkan kondisi real di darat, berdasarkan sudut pandang dari angkasa.

Menimbang dari semua pemikiran di atas, maka saya berkesimpulan bahwa seringkali dalam memandang sesuatu kita terlalu terbatasi oleh kondisi yang paling dekat dan mudah dipahami oleh kita, padahal belum tentu hal yang tampak secara real di hadapan mata mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya. Misalnya, saat anda bertemu dengan seseorang yang bermuka masam pada anda, biasanya kita akan menganggap orang tersebut benci pada kita, marah, atau kita malah kita akan balik bermuka masam dan memusuhinya. Padahal, muka masam yang ditunjukan pada kita, bisa saja disebabkan dia sedang sakit gigi, atau sedang terbelit suatu masalah pribadi yang sangat berat dan bukan diarahkan pada kita.

Contoh lain, kita juga biasa menilai orang hanya menggunakan satu tolak ukur saja. Dari penampilan misalnya, saat bertemu dengan orang mengenakan jas, dasi dan pekaian yang terlihat resmi, biasanya orang akan menganggap anda sebagai orang penting yang diekspresikan dengan penghormatan yang lebih untuk anda, dilain sisi jika seseorang mengenakan sandal jepit, pakaian lusuh kita cenderung menganggapnya lebih rendah dari orang yang pertama. Padahal derajat dan kedudukan setiap orang bukan ditentukan oleh tampilan luar dan satu sisi saja, melainkan harus dilihat secara keseluruhan dengan menggunakan pola Helicopter view. Bukankah banyak orang berdasi yang tidak bermoral dan bermental rendah?

Berkaitan dengan helicopter view, pernah diceritakan bahwa Rasulullah dan sahabat tengah melakukan perjalanan di gurun. Saat menjelang malam, mereka memutuskan untuk bermalam di tengah gurun tersebut, saat itu mereka membutuhkan api unggun, untuk itu Rasulullah mengisyaratkan untuk mencari kayu bakar di sekitar gurun. Tampak rasa enggan di rona para sahabat, dikarenakan lokasi mereka berada tidak terlihat batang pohon maupun kayu bakar yang besar, tapi toh Rosulullah mengawali dengan berkeliling mencari kayu bakar, yang diikuti dengan para sahabat. Setelah beberapa lama mereka mencari, akhirnya masing-masing mengumpulkan temuannya, memang tak satupun yang berhasil membawa banyak kayu bakar, setiap dari mereka membawa beberapa bongkah kecil kayu atau ranting yang mereka temukan. Ternyata dari hasil temuan itu, terkumpullah setumpuk besar kayu bakar yang mereka gunakan unutk menghangatkan tubuh dan memasak makanan. Lantas Rosulullah berkata: ”Seperti itulah hidup kita, seringkali tanpa kita membuat dosa-dosa, tanpa kita sadari dosa kecil-pun jika akan menjadi besar jika kita lakukan berulang dan terus menerus”.

Ya.. ya.. seringkali kita enggan berbuat karena merasa perbuatan tersebut akan sia-sia, atau barangkali terlanjur menganggap perbuatan tersebut adalah suatu yang mustahil untuk dilaksanakan. Semua itu diakibatkan kita tidak terkungkung oleh pikiran picik kita.

Perbedaan orang besar dan orang kecil adalah dari cara mereka memandang permasalahan. ”orang kecil lebih banyak berbicara tentang orang, orang yang biasa akan banyak berbicara tentang apa atau fenomena, tapi orang yang besar selalu berbicara tentang ide besar”.

Saat para tentara berpikir bagaimana bisa bertahan hidup saat perang, tapi seorang kopral bernama ’Hitler’ berpikir bagaimana menguasai dan merubah dunia. Akhirnya jadilah dia seorang penguasa, hanya saja amat disayangkan bahwa ide besarnya tidak diimbangi dengan Helicopter view. Dia tidak melihat bahwa unutk menguasai dan merubah dunia harus juga diimbangi dengan memandang tinggi derajat manusia dan menghargai nilai kemanusiaan, tidak boleh terkungkung oleh pandangan picik tentang keunggulan suatu SARA.

Ide besar dan sudut pandang total yang patut dicontoh adalah teladan para Rasul. Ibrahim misalnya, saat kaum di zamannya tak kuasa mengubah tradisi sesat nenek moyangnya, beliau malah gusar dengan kondisi yang tidak bisa memberikan jawaban penuh atas segala masalah yang ada. Dengan upaya yang gigih untuk menemukan solusi nyata, akhirnya berhasillah Beliau mendapat ’pencerahan’, hebatnya lagi, pencerahan yang didapat, tidak hanya dinikmati sendiri, sebab tidaklah amat kecil nilai diri kita jika tidak tidak membukakan pintu pencerahan buat orang lain.

Seperti halnya helicoperview, itulah mengapa Islam mengajak umatnya untuk tidak mengambil satu unsur saja dalam beragama, melainkan menganut Islam secara Kaaffah. Sama halnya Tuhan yang menilai manusia tidak hanya dari satu perbuatan buruknya saja, melainkan dari banyak sisi. Dan bukankah Tuhan juga menyuruh kita untuk selalu berpikir positif dan menghilangkan pikiran negatif? Dan bukankah pemikiran positif hanya dimiliki oleh mereka yang open minded dan tidak terkungkung oleh paradigma berpikir yang sempit. Ide besar tidak akan darang bagi mereka yang tidak membukan pikirna dan sudut pandang..! Dan itu bisa diraih dengan Helicopter View..!

Marilah melihat dan bertindak secara Totalitas...!

No comments: