‘ASAL GOBLEG’* 1 di Pulau Dewata
My Diary : Kuta Bali, 7 November 2007
* Istilah ini saya dapat dari rekan salesman Honda di Jakarta yang sering kumpul-kumpul di sela pekerjaan mereka keliling menawarkan barang. Obrolan tanpa tema saat mereka kumpul inilah yang mereka sebut sebagai ‘asal goblek’.
Welcome to Denpasar Bro..!
Malam tadi saya tiba di Denpasar, Pulau Dewata orang menyebutnya. Pulau ini terkenal dengan Sunset dan Sunrise nya. Tidak hanya itu, pulau ini penuh dengan pemandangan menawan, dari mulai tanah lot, pantai kuta, jimbaran, pantai Sanur, Nusa dua adalah sekelumit contoh lokasi tujuan wisata yang tak diragukan keindahannya.
Setiap sudut pulau ini juga menawarkan jutaan pesona eksotik, dari gemulai para penarinya, pahatan indah hampir di setiap ornament perumahan, keteduhan rumah ibadah di setiap titik komunitas, penduduk dengan pakaian adatnya, kesegaran aroma dupa sembahyang sejak pagi buta, dan banyak lagi pesona yang tak tergambarkan melalui catatan jentik jari saya ini. Hemat saya, wajar saja kalau pulau ini disebut orang sebagai pulau dewata, mungkin tempatnya para dewa-dewi menikmati masa liburan akibat penat pengurusi orang bumi.
Keindahan, eksotika, dan segala pancaran pesona Bali bisa jadi telah membuat telinga anda jengah karena selalu didengungkan beragam media promosi pariwasata, rekan yang pernah berkunjung ke sana, atau melalui pengalaman anda sendiri yang pernah datang mengunjungi. Jadi tidak relevan rasanya jika saya menjejali anda lagi dengan cerita saya mengenainya, alih alih saya membuat anda tertarik, malahan membuat cerita saya terkesan norak dan mengurangi keindahan pulau ini. Sehingga saya lebih tertarik untuk berkelakar tentang hal lain yang lebih human interest, atau paling tidak for my self interest.
Seperti singgungan saya di awal, bahwa saya tiba malam hari atau tepatnya menjelang pagi, sekitar 23.35 saya tiba di bandara Ngurah Rai, pukul 23.50 waktunya kami check ini di hotel The Rani Kuta. Lelah memang rasanya tapi inilah tugas kami – saya dan atasan saya di Departemen Sales Training Astra International Honda Sales Operation – yang harus keliling Kota untuk menyampaikan materi training bagi para salesforce Honda hampir di seluruh Indonesia.
Asal Goblek 4 Mata.
Pagi harinya, keberangkatan kami ke lokasi training disambut oleh hujan rintik yang selalu membasahi kota denpasar selama 2 minggu ini. Kebiasaan kami, sepanjang perjalanan kami isi dengan obrolan ringan seputar training, urusan kantor, improvement, bahkan mengenai urusan pribadi sekalipun.
Kali ini, obrolan kami mengarah pada urusan bisnis, itu bermula saat kami melihat warung tenda seefood yang berada di dalam sebuah bengkel mobil besar di jalan menuju Pantai Kuta. “Menurut kamu bisnis rumah makan itu beresiko besar atau tidak?” Tanya atasan saya tiba-tiba.
“Ya, setiap bisnis memang beresiko, bukankah itu wajar pak? Dan mengenai rumah makan itu saya pikir resikonya kecil, bahkan cederung ide Brilian” jawab saya.
Mendengarnya, atasan saya mengernyitkan dahinya sambil menunggu kelanjutan omongan saya, “Bukankah bisnis tersebut adalah sebuah ide yang Blue Ocean?, dunia ini sekarang punya kendala akses, bagi setiap orang di zaman ini waktu dan kemudahan merupakan konsen yang tidak bisa ditawar lagi. Kebutuhan selalu ingin dikemas dengan kesenangan. Strategi yang diterapkan olehnya hampir sama dengan pola one stop shoping-nya supermarket dan Hypermarket, yang menyediakan semua kebutuhan pelanggan hanya dalam satu toko. Warung itupun terletak di dalam bengkel yang cukup ramai, jadi para pelanggan bengkel yang harus menunggu mobilnya diperbaiki bisa mampir di warung tersebut, tidak hanya itu bagi pelanggan luar yang ingin makan di sanapun aksesnya terbuka, parkirnya kan cukup luas, dan warung ini tidak punya kesan tertutup sehingga orang sangat tertarik untuk datang ”, jelas saya panjang lebar, Atasan saya hanya tersenyum sambil terus menerawang ke depan.
”Kalau tidak laku bagaimana tif?” tanya atasan saya sambil sedikit melirik ke arah saya.
”Seafoodnya kan belum dimasak pak, jadi bisa di es”, jawab saya.
”Berapa lama dia bisa tahan di es? Bukankah semakin lama di es akan mengurangi kenikmatannya?” tanya atasan saya lagi.
”untuk satu sampai 3 hari kan gak masalah pak?” Bantah saya.
”Darimana kamu tahu bahwa dia laku? Kalau sama sekali gak laku?” tanya atasan saya mendesak.
”Kalau gak laku ya bangkrut pak, itukan sebuah hukum alam, bahwa ketika sebuah bisnis tidak bisa merebut dan mempertahankan pelanggan, maka bisnis tersebut hanya tinggal menunggu waktu untuk tutup”. Jawab saya santai.
”Itulah resikonya bisnis makanan tif, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya, dan makanan itu adalah barang basi, belum lagi kenaikan sembako, dan banyak lainnya. Satu lagi yang harus kamu ingat, bahwa kenaikan harga dalam sebuah makanan akan berdampak besar bagi pelanggan, karena mayoritas pelanggannya adalah sensitif price ” tambahnya lagi. Sayapun mengangguk seakan mengamini perkataan itu, yang ternyata ampuh untuk mengakhiri perdebatan mengenai dampak dan resiko bisnis warung tenda di bali atau tepatnya bisnis makanan.
Obrolan singkat ini telah membuat saya terdiam sejenak dengan pikiran menerawang mencari jawab atas teka-teki yang seketika menyeruak dalam batin saya. Ratusan sudah buku ekonomi dan bisnis yang saya baca, semuanya sangat berguna bagi saya untuk mengisi pundi-pundi ide dan wawasan bisnis yang senantiasa berkembang tiada henti, tapi rasanya baru kali ini saya merasa tergelitik untuk masuk lebih dalam pada pertanyaan yang simple but powerfull yaitu ”benarkah? Lalu bagaimana sebaiknya?”
Asal Goblek dalam Batin
Bukankah sebuah bisnis pasti menuai resiko? Menurut literatur yang saya baca, hanya penakutlah yang tidak berani menerima resiko, dan bagi mereka yang tidak berani menerima resiko maka dia tidak akan pernah melakukan apa-apa yang pastinya diapun tidak akan mendapatkan hasil apa-apa. ”who makes no mistakes,makes nothing”, hal itupun berlaku di dunia bisnis bukan?
Adakah bisnis yang tanpa resiko? Tidak ada..! teriak saya dalam hati, tidak melakukan apapun ada resikonya. Pernah dengar kan ada orang yang tidur lalu seluruh hartanya ludes dimakan api atau dirampok orang? Jadi tidak ada bisnis tanpa resiko.
Bisnis apakah yang memiliki resiko kecil? menurut dosen mata kuliah wiraswasta saya, besar kecilnya resiko berbanding lurus dengan Besar kecilnya keuntungan yang akan didapat. Artinya, jika menginginkan keuntungan keuntungan yang besar, maka kemungkinan resiko yang akan didapat juga besar, begitu sebaliknya resiko yang kecil hanya dimungkinkan hanya untuk keuntungan yang kecil. contohnya, antara berinvestasi di saham dengan menanamkan modal dalam deposito tentunya lebih kecil resiko di deposito, hanya saja keuntungan anda dalam deposito ditakar oleh suku bunga yang berlaku saat itu, tak lebih dan tak kurang. Sedankan investasi di saham gain / keuntungan yang mungkin anda raih sangat besar tergantung keahlian anda dalam memainkan modal anda, walaupun pada akhirnya banyak juga yang hasilnya ’jeblok’ karena resiko yang didapat akan sangat besar jika salah berinvestasi
Lalu, bagaimanakah kita mendapatkan untung besar dengan resiko yang kecil ?? Satu hal yang harus anda ingat, bahwa segala sesuatu hanya berupa ’POTENSI’ selama itu belum terjadi, termasuk sebuah ’RESIKO’ hanya berupa potensi jika hal tersebut tidak menjadi kenyataan. Oleh karenanya kemampuan berkreasi manusia yang luar biasa telah menciptakan ”manajemen resiko” sebagai alat untuk mengatur resiko menjadi lebih kecil atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Bagiamanakah teknis manajemen resiko tersebut? Wah terlalu panjang rasanya kalau saya jelaskan dalam tulisan ini, lagi pula manajemen resiko telah menjadi satu mata kuliah khusus dalam Ilmu manajemen.
Kini rasa ingin tahu saya mengenai resiko sudah terjawab, lantas siapkah saya menghadapi resiko bisnis?? ”eittt.. tunggu dulu....!” batin saya teriak. Apa yang dimaksud dengan bisnis? kini pikiran saya tengah membolak balik literatur dalam labirin otak saya – tsst... sebenarnya saya mencarinya di memori laptop saya, karena laptop saya telah menjadi otak kedua saya, akibat sangat ketergantungannya saya padanya--. Ternyata di sana saya temukan beberapa kepingan definisi mengenai bisnis, antara lain.
Bisnis adalah Usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan bidang usaha...(Kamus Besar Bahasa Indonesi)
Bisnis adalah Pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan dan memberikan manfaat... (Skinner)
Business is The buying and selling of goods and services ...(Snogara dan Soegiastuti)
Bisnis adalah Suatu organisasi yang menjalankan aktifitas produksi dan penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit… (Straub dan Attner)
Membaca definisi ini, saya merasakan kelegaan dalam batin saya, pasalanya bukankah saat inipun saya sedang berbisnis kendati dalam status saya sebagai seorang karyawan?. Sebab saya selalu menganggap bahwa perusahaan tempat saya bekerja bukan merupakan perusahaan orang lain, melainkan telah menjadi bagian dari perusahaan saya sendiri yang jika saya bekerja keras untuk mengembangkannya, maka saya pulalah yang akan untung. Jadi apakah masih mau menyebut saya tidak bisnis saat ini?
”Dasar Bodoh kau..! di Indonesia pengertian suatu makna ditentukan berdasarkan makna yang paling dikenal masyarakat. Madrasah misalnya, dalam bahasa aslinya bermakna sekolah baik sekolah umum maupun agama, tapi di Indonesia mengalami spesialisasi menjadi Sekolah yang berbasis agama Islam. Dan bisnis yang saya maksud di sini juga adalah bisnis dengan membukan usaha sendiri, tidak menjadi pegawai dalam perusahaan orang lain..!” batin saya kini mulai berontak euy..! he he he
” Uhhh Slow down Babe.. take it easy, just let it go..!” kini batinku yang lain mulai bernyanyi menenangkan demontrasi batinkku yang lain. Begini, Sebagai penguat bahwa saya tengah berbisnis saat ini saya akan gambarkan dalam analogi lain. Kalau anda membangun sebuah perusahaan baru sebesar tempat saya bekerja sekarang, kira kira anda butuh uang berapa banyak? Bisa Berpuluh-puluh milyar modal uangnya saja, belum lagi modal lain berupa pembentukan jaringan, konsep, dan segala pondasi bisnis lainnya yang tak terbayang bagaimana mengumpulkan uang sebanyak itu dan berusaha sejauh itu.. wuih… alih-alih saya mengumpulkan semua itu, malahan saya keburu di ajak ke grogol akibat setress…! Kini, saya tidak perlu mengumpulkan dana sebanyak itu, saya tidak mesti membangun segal infrastruktur, jaringan, dan segala pendukung lainnya, saya hanya perlu menggunakan kemampuan saya untuk menjaga dan mengembangkannya sehingga lebih besar lagi, yang tentunya saya akan mendapatkan uang atas itu. Adakah bisnis yang lebih menguntungkan dari ini semua?? Anda tinggal menganggap bahwa perusahaan tempat anda berkerja adalah milik anda maka anda telah menjadi pemiliknya…!
HORE…! Kini saya menjadi tenang, karena sudah memiliki perusahaan sebesar ini, dengan potensi pertumbuhan yang luar biasa, dan kontribusi yang luar biasa terhadap diri saya. Ini adalah perusahaan yang akan saya kembangkan, karena ini adalah perusahaan Saya...!! ***