31 October 2008

Pilih Hidup yang mana?

Pilih Hidup Yang Mana?

Jakarta, Minggu 13 Juli 2008.

Pukul. 21.17 WIB @ My Small Room.

By: Abdul Latief

Malam sabtu yang lalu, seorang teman ikut menginap di kost-ku. Kami banyak berbincang mengenai problematika hidup dan segala pernak-perniknya. Perbincangan terus mengalir sambil sesekali menyeruput es soda susu yang dibeli di warung mie dekat kost ku. Kini akhirnya kami berbincang mengenai target hidup dan kegundahan yang banyak dirasakan orang termasuk diri kami.

Banyak orang yang ngoyo dalam mengejar hidup padahal seringkali mereka sendiri bingung atas apa yang mereka cari selama ini. Karyawan yang menjadi staff merasa gundah dengan posisinya sambil terus mendambakan naik gaji dan pangkat. Supervisor merasakan hal yang sama, para manager, General Manager, bahkan para komisaris dan direktur pun mungkin merasakan hal yang sama. Bahkan tak jarang dari kita menghalalkan segala cara untuk mencaraihnya. Jilat-menjilat, jegal-menjegal, korupsi, kolusi, nepotisme, adalah konsekuensi dari hal tersebut.

Dalam perbincangan ini aku menyitir sebuah cerita yang pernah diutarakan oleh Prof.DR. Jalaluddin Rahmat, mengenai Nelayan dan Master Ekonomi Harvard University. Dalam ceritanya, Kang Jalal – begitu Prof.Dr. Jalaluddin Rahmat sering disapa – mengisahkan tentang seorang nelayan yang setiap hari mencari ikan selama 5 jam kemudian pulang dengan hasil yang cukup untuk ditabung dan menghidupi istri dan dua anaknya.

Suatu kesempatan, selepas melaut sambil membawa hasil tangkapannya, sang nelayan bertemu dengan seorang Lulusan Terbaik Magister Bisnis Harvard University yang tengah meneliti tentang kehidupan nelayan di sana.

"Berapa lama Bapak bekerja dalam sehari dan bagaimana hasilnya?" tanya Sang Master mengawali perbincangan.

"Setiap hari saya bekerja selama 5 jam, sisa waktu yang ada saya habiskan untuk berkumpul dengan keluarga. Sedangkan ikan hasil tangkapan saya jual dan cukup untuk makan keluarga dan sisanya saya tabung bekal masa tua" jawabnya lugas.

"Mhmh.. Cuma Lima jam ya...! kalau saja bapak bisa bekerja selama 10 jam, maka penghasilan bapak bisa dua kali lipat dari sekarang, sehingga tabungan bapak bisa lebih banyak lagi." ujar Sang Master memberi saran.

"Kalau saya dapat penghasilan lebih banyak, lalu apa yang mesti saya lakukan selanjutnya ?" tanya sang nelayan sambil mengernyitkan dahi.

"Kalau penghasilan bapak lebih banyak, maka bapak bisa membeli kapal yang lebih besar, dengan demikian penghasilan bapak bisa jauh lebih besar dari saat ini.."

"Lalu setelah itu?" sang nelayan makin penasaran.

"Dengan penghasilan yang lebih besar bapak bisa membeli lagi beberapa kapal yang tentunya bisa terus melipat gandakan penghasilan bapak.."

"Lalu?" Nelayan masih penasaran.

"Setelah itu bapak bisa membeli membuat sebuah pabrik dengan omzet yang luar biasa besar, dengan demikian bapak bisa memiliki banyak karyawan, dan selanjutnya dengan hasil kerja keras bapak itu, bapak bisa menghabiskan sisa masa tua bapak bersama keluarga..." jelas Sang Master panjang lebar.

"Mhmm berapa lama ya.. saya harus bekerja keras dan menyita waktu keluarga saya hingga mencapai tujuan saya itu..?" tanya nelayan.

"Ya, bapak bisa mencapai itu, dengan waktu kira-kira 20-25 tahun sejak saat ini" jawab sang Master puas.

"Apa?!! Saya harus bisa menghabiskan 20-25 tahun untuk bekerja keras, baru saya bisa menikmati waktu bersama keluarga? Sudahlah bapak bawa saja teori bapak itu pada nelayan yang lain, tanpa harus bekerja keras selama 20-25 tahun, sekarangpun saya bisa menikmati hidup bersama keluarga" ungkap sang nelayan sambil meninggalkan Sang Master yang tengah termenung menelusuri teori briliannya yang malah membuatnya skeptis juga.

***

Membaca cerita ini, Anda akan memilih menjadi Nelayan atau mengikuti ide Sang Master? atau barangkali Anda mau memilih Paradigma hidup yang lain.

Seingat saya, Kang Jalal mengakhiri cerita itu dengan kesimpulan bahwa Sang Nelayan dan Sang Master tak ada bedanya. Mereka sama-sama EGOIS dengan tujuan hidupnya untuk bahagia dan mengejar obsesi pribadinya sendiri, hanya untuk diri dan keluarganya. Bedanya hanya status dan jumlah harta yang mereka raih. Adakah yang lebih berharga dan utama di raih?

Ada hal yang lebih utama untuk dilakukan Oleh Sang Nelayan dan Sang Master. Kalau saja saya menjadi nelayan, maka saya banyak waktu untuk melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Seandainya harus menjadi Pengusaha Sukses, maka banyak harta yang dan peluang yang saya bisa sumbangkan buat orang banyak. Jadi bukan sebagai apa kita hidup, melainkan Apa yang bisa kita berikan buat orang banyak.

Sebaiknya-baiknya manusia adalah yang paling besar kontribusinya buat orang lain.

Hidup Sekali Hiduplah yang berarti Lillahi Ta'ala.

Barangkali Anda punya pendapat berbeda dengan saya?

ABDUL LATIEF
Sales Training Instructor
Astra International,Tbk -Honda
 
Email    : abdul.latief@hso.astra.co.id
HP       : 0852 166 566 32
Tlp       : (021) 653 10 250 Ext.3546
Fax      : (021) 653 10 245
Hidup sekali, hiduplah yang berarti...

29 October 2008

Air, Darah & Otak... Apa hubungannya..?

KE KENTALAN DARAH DALAM TUBUH,

MENGAPA TERJADI....? ??

Ada satu pertanyaan yang masuk ke mailbox saya, yaitu "Mengapa harus minum
air putih banyak-banyak. .?"

Well, sebenarnya jawabannya cukup "mengerikan" tetapi karena sebuah pertanyaan jujur harus dijawab dengan jujur, maka topik tersebut bisa dijelaskan sbb:

Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air.

Malah ada beberapa bagian tubuh kita yang memiliki kadar air di atas 80%.Dua organ paling penting dengan kadar air di atas 80% adalah :


OTAK DAN DARAH.. .!!!

Otak memiliki komponen air sebanyak 90%,
Sementara darah memiliki Komponen air 95%.

Jatah minum manusia normal sedikitnya adalah 2 liter sehari atau 8 gelas sehari.

Jumlah di atas harus ditambah bila anda seorang perokok.

Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh kita lewat air seni, keringat, pernapasan, dan sekresi. Apa yang terjadi bila kita mengkonsumsi kurang dari 2 liter sehari...?

Tentu tubuh akan menyeimbangkan diri. Caranya...?
Dengan jalan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri.Dari otak...?

Belum sampai segitunya (wihh...bayangkan otak kering gimana jadinya...), melainkan dari sumber terdekat :
Darah. !!

Darah yang disedot airnya akan menjadi kental.
Akibat pengentalan darah ini, maka perjalanannya akan kurang lancar ketimbang yang encer.

Saat melewati ginjal [ tempat menyaring racun dari darah ]
Ginjal akan bekerja extra keras menyaring darah.
Dan karena saringan dalam ginjal halus, tidak jarang darah yang kental bisa menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.


Akibatnya, air seni anda berwarna kemerahan, tanda mulai bocornya saringan ginjal. Bila dibiarkan terus menerus, anda mungkin suatu saat harus menghabiskan
400.000 rupiah seminggu untuk cuci darah

Eh, tadi saya sudah bicara tentang otak '
kan...?

Nah saat darah kental meng alir lewat otak, perjalanannya agak terhambat. Otak tidak lagi "encer", dan karena sel-sel otak adalah yang paling boros
mengkonsumsi makanan dan oksigen,

Lambatnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya..[ ya wajarlah namanya juga kurang
makan...]


Bila ini ditambah dengan penyakit jantung [ yang juga kerjanya tambah berat
bila darah mengental... ],maka serangan stroke bisa lebih lekas datang

Sekarang tinggal anda pilih: melakukan
"investasi" dengan minum sedikitnya 8
gelas sehari- atau- "membayar bunga" lewat sakit ginjal atau stroke.

Anda yang pilih...!


Forwardlah E-mail ini kepada keluarga, sahabat dan orang-orang yang Anda
cintai !

28 October 2008

Masih Adakah Kejujuran?

Dear All,

Oktober bulan ini aku dinas di Bali, saat mengobrak-abrik isi memori laptop-ku ternyata kutemukan secarik cerita ini yang hampir hilang terselip dalam ketiak laptopku saat dinas bulan juni sebelumnya. Untungnya ketemu juga, agak kurang menarik memang, tapi semoga berguna.

kunjungi juga: www.abdullatiefku.blogspot..com atau www.abdullatief.com

-- malam hari selalu penuh dengan inspirasi --

Masih adakah Kejujuran?

Hotel Bali Rani - Kuta Bali, Kamis 5 Juni 2008.

Pukul 22.12 WITA.

By: Abdul Latief

"Hattrick" pekikku di suatu pagi, bukan lantaran aku memasukan gol 3 kali berturut-turut ke gawang lawan saat bermain futsal, melainkan tiga hari berturut-turut naik Metro Mini (MM) 07 Jurusan Senen-Semper bersama komplotan pencopet.

Modus mereka cukup cerdik, satu tim terdiri dari 3-5 orang. Mereka naik MM yang sudah penuh dari ITC Cempaka Mas hingga Perempatan Tanco. Selama perjalanan itulah mereka beraksi. Satu orang berada di pintu depan, satunya berdiri di pintu belakang, sisanya berada di tengah berbaur dengan penumpang yang lain. Jadi banyak kesempatan untuk mereka beraksi.

Syukurnya aku sama sekali tidak menjadi korban, walau sempat menjadi incaran mereka. Firasat dan gerak-gerik mereka yang mencurigkan, Kasak-kusuk sambil meraba tas dan celana penumpang, untungnya aku segera sadar dan mulai waspada. Sempat terasa sangat takut, tapi Alhamdulillah Allah masih melindungiku.

Sempat ada salah satu penumpang yang berbisik pada rekan di sampingnya untuk waspada, akhirnya orang itu menjadi objek kemarahan para copet yang saat itu gagal meraih hasil dan menyalahkan orang itu sebagai penyebab kegagalan saat itu. Hampir saja lelaki pahlawan itu menjadi sasaran pemukulan para copet yang berang, untungnya ada polisi di sekitar lokasi para pencopet tersebut turun dari MM, hingga kekerasan tak terjadi.

Kejadian itu hanya sekelumit kisah yang tak lagi menarik untuk dibahas terlebih untuk kehidupan di kota besar seperti di Jakarta. Bagi Anda yang sering menggunakan Kereta api, bis kota, atau kendaraan umum lainnya bahkan kendaraan pribadi sekalipun, kejahatan sudah menjadi pemandangan lazim setiap hari. Hampir tak ada sisi kota yang lepas dari jamahan kejatan, kejahatan selalu muncul di setiap sudut kehidupan, sehingga kejujuran seakan menjadi barang langka bagi kehidupan. – Setidaknya itu kesimpulan yang diambil oleh rekanku yang sangat paranoid akibat beberapa kali menjadi korban kejahatan dan seringnya menyaksikan kejahatan di depan mata maupun melalui media massa.

Dimana bisa kutemukan kejujuran?

Kenapa kau sembunyi dan enggan menampakkan diri kepermukaan?

Apakah kau sudah enggan menelusup ke sanubari manusia?

Ataukah mereka yang enggan hidup bersamamu?

Barangkali kau hanya bisa kutemukan dalam selokan kumuh atau tong sampah?

Mungkin kau hanya bersembunyi di ketiak kitab suci atau bait syair sang pendakwah?

Jadi, masih adakah kejujuran ???

Setidaknya itu adalah beberapa bait kegundahan yang pernah seorang rekan tuliskan untukku. pada banyak hal aku tak setuju dengan bait syair itu, sebab aku sendiri masih sangat merasakan kejujuran yang kental di kehidupan ini, dan saya yakin andapun merasakan hal yang sama.

Sandal yang anda taruh di mesjid hanya sesekali saja hilang, selebihnya tak pernah hilang bukan? Dompet di tas anda mungkin pernah hilang, tapi tak selalu hilang bukan? Barang-barang di kantor dan rumah Anda mungkin sesekali hilang, tapi tak selalu hilang bukan? Itu bukti yang sederhana bahwa anda kejujuran dan kejahatan masih lebih banyak kejujuran, hanya saja kejahatan selalu memiliki efek yang tidak menyenangkan ketimbang kejujuran.

Satu yang tidak bisa kulupa mengenai kejujuran adalah kejadian di Denpasar ini. Sore aku dan atasanku tengah membeli oleh-oleh di salah satu toko oleh-oleh yang terkenal murah dan lengkap. Saat melihat-lihat beberapa souvenir, aku tertarik untuk mencoba baju batik motif Bali di kamar pas. Setelah mencoba dan merasa cocok aku masukan dalam keranjang belanja dan aku kembali berkeliling mencari beberapa barang titipan kawan dan adikku.

"Kepada Bapak Abdul Latief, diharap segera datang ke meja operator" terdengar dengan jelas panggilan atas namaku dari operator toko.

"aku? Wah cepat sekali atasanku selesai belanjanya.. ah.. 2 menit lagi lah.." pikirku tak menggubris panggilan itu.

"Kepada Bapak Abdul Latief, diharap segera datang ke meja operator sekarang juga.." panggilan tersebut dikumandangkan lagi hingga beberapa kali.

Kontan saja aku penasaran, akhirnya aku bergegas ke meja operator, di tengah perjalanan aku bertemu dengan atasanku "Bapak Manggil saya ke operator? " tanyaku.

"Enggak.. malah saya mau tanya kamu.." jawab atasanku.

Aku bergegas ke meja operator, ternyata aku baru sadar bahwa ternyata saat aku mencoba batik di kamar pas, tas kecilku yang berisi dompet, Handphone, kamera, Tiket pesawat dan barang berharga lainnya tertinggal di sana. Begitu kulihat isinya, tak ada secuilpun barang yang hilang. Dompetku yang berisi beberapa kartu kredit, ATM dan uang perjalanan dinasku tak seperpun hilang. LUAR BIASA...! ternyata Bali sebagai Pulau yang terkenal jujur terbukti benar-benar Jujur..! sekaligus menjadi bukti bahwa kejujuran masih sangat kental memadati kehidupan ini.

"Sangat mudah mencari orang yang pandai, cerdas, cekatan, ataupun tampan, tapi sulit mencari mereka yang masih memegang kejujuran. Dan itulah yang harus menjadi harta kita yang paling utama — Adopted from my Best Friend : Adi Damar Prasetya"

27 October 2008

Aku dan Mereka Berbeda

Dear All...

Lama tak menulis membuat jari kaku dan kreatifitas terbelenggu, akhirnya di Semarang ini aku berhasil membuahkan satu lagi tulisan diaryku. Tulisan ini tak bagus memang, tapi semoga bisa menjadi renungan agar kita lebih peduli pada sesama...

Jadi, bagi rekan2 yang menagih oleh2.. berikut ini oleh2 dari semarang...!

Nb: Kopendium tulisanku bisa juga diakses di www.latief15610.multiply.com atau www.abdullatiefku.blogspot.com atau www.abdullatief.com

Aku dan Mereka Berbeda

Inspirasi dari baby sitter di Mall Ciputra Semarang.

Semarang, 15 Juni 2008, 22.00 WIB.

Seminggu ini giliran jatahku dinas di Semarang, langit semarang mulai menghitam seiring mentari yang menyelinap malu-malu ke peraduannya. seorang rekan kantor menyambut hangat di Bandara, sambil memandu ke tempat parkir dan berbincang hangat, ia memberikan kunci mobil untuk operasional selama di Semarang.

Aku dan rekan Semarang berpisah di lahan parkir bandara, lantas bergegas menuju Salah satu hotel berbintang empat di wilayah simpang lima. 'Kamar Twin beds, no smoking floor dan berada di dekat lift' selalu menjadi pesananku setiap kali menginap di Hotel, maklum aku selalu menginap sekamar dengan atasanku sebagai mitra satu tim.

Setelah check in, menaruh barang, dan shalat, kini tiba saatnya kami mencari makan. Tak jauh lokasi yang kami pilih, mall yang bergandengan dengan hotel selalu menjadi pilihan kami makan malam di Semarang. Simple but powerful – mudah, murah, dan sekalian melampiaskan hobbi memperhatikan keragaman manusia.

Melangkahkan kaki di mall malam ini, membuat hatiku bergidik beberapa kali, bukan lantaran aura gaib Lawang Sewu sudah pindah ke mall ini, melainkan beberapa hari ini perasaanku begitu sensitive, hatiku sangat mudah terenyuh di minggu ini. Melihat pengemis di pinggir jalan, adalah keseharian yang tak terelakkan, tapi di minggu ini sebutir air mata menetes tak terbendung dari pelupuk mataku. Saat menjenguk kakaku yang tengah dirawat di RS, kembali mengalirkan beberapa tetes airmata seraya mengingat kenanganku yang menjenguk mendiang ayahku di RS dengan masih mengenakan seragam SD. Menyaksikan pengamen cilik, kondektur tua, ibu supir busway, nenek calo terminal senen, pedagang asongan dekat kost, dan beberapa kejadian lainnya cukup membuat hatiku tersentuh dan sedih di minggu ini. Bahkan pagi sebelum aku berangkat ke Semarang, aku sempat hadir dalam acara pernikahan sepupu laki-lakiku, kurasakan aura perpisahan yang sangat dengan sepupuku yang selama ini begitu dekat denganku, lagi-lagi kutuangkan setetes air mata di pernikahannya.

Malam ini saat makan di salah satu restoran frenchise nasional, kulihat di seberang mejaku, duduk sekelompok pengunjung dengan 4 orang dewasa, 3 orang anak kecil dan seorang remaja putri. Dilihat dari penampilan dan pola komunikasinya dapat kupastikan bahwa mereka adalah dua keluarga muda yang tengah menikmati makan malam di luar. Tak ada yang aneh dari penampilan mereka, tak cukup unik untuk menarik perhatianku yang tengah memperhatikan hilir mudik pengunjung mall dengan busana, polah, tingkah dan penampilan yang sangat beragam.

Sepuluh menit menunggu, pesanan belum juga datang, entah kenapa pandangan mataku kembali tertuju pada dua kaluarga tadi, ternyata ada seorang yang berbeda dan unik dari mereka. Semua anggota keluarga berkulit putih bersih, terawat penampilannya dan mengenakan busana trendi. Tidak demikian dengan remaja prutri yang duduk semeja dengannya, berkulit coklat gelap, tak ber make-up dan berseragam putih kusam dengan renda merah yang biasa menghiasi celemek. -- Anda pasti mengerti bahwa ia adalah sang baby sitter yang kini tengah menggejala di lingkungan hidup para keluarga muda Indonesia. Keberadaan mereka sedemikian menggejala bak cendawan di musim penghujan.

Semangat dan antusias obrolan tak pernah surut dari setiap anggota di meja makan tersebut, keakraban sedemikian terbangun dalam setiap canda dan tawa mereka. Hal inipun menambah kontras pemandangan dihadapanku sebab sang gadis hanya termangu dengan tatapan kosong berkaca memandangi setiap pengunjung mall yang lalu lalang melewati. Pikiran gadis itu menerawang dengan sejuta bersitan rasa sedih yang sekuat tenaga dia sembunyikan, aura kesedihannya telah bisa menyeruak dan menelusup ke dasar hatiku yang ikut menabar pesona kedukaan di hatiku.

Sesekali lamunannya terusik oleh polah bocah cilik yang selalu rewel menggelayutinya, ia layani rengekan bocah cilik dengan senyum paksaan dan kesabaran yang tersisa menghadapi kemanjaan sang bocah. Ia suapi sang bocah dengan telaten padahal sang gadis terlihat lapar tanpa satu makananpun yang disiapkan untuknya. Air liur dan asam lambung mungkin sudah menganak sungai di dirinya, tak satupun anggota keluarga yang menawarkan seremah makananpun untuknya. Sang nyonya hanya bisa mengawasi dengan tetap asyik memuatkan ribuan suapan nasi ke mulutnya yang tak berhenti mengunyah.

Entah kenapa sang bocah demikian menyebalkan malam itu, dia menangis dan menuntut layanan macam-macam, lagi-lagi sang nyonya hanya bisa berujar "kamu urus dong anakku itu dengan benar... masak sich bikin bocah diam saja kamu gak becus..!" sang nyonya kembali asyik dengan santapannya tanpa peduli bahwa sang bocah adalah anak kandungnya, dan belum sesuap nasipun ia tawarkan pada sang gadis.

Segunung ledakan atom kemarahan di diriku hampir saja tak terbendung, sungguh ingin kulabrak nyonya dan tuan yang tak berperikemanusiaan itu, ingin kulemparkan piring makanan ke muka mereka sambil kucaci maki mereka atas perlakuan diskriminasi mereka atas gadis itu. Rupanya akal sehatku masih kuasa menangkal amarah yang berlebih dariku.. "Astaghfirullah al Azhim.. balaslah segala kejahatan dengan hikmah kebaikan.. kalau kau balas perbuatan mereka dengan kekerasan, berarti aku sama saja bahkan lebih buruk dari mereka" bathinku menenangkan luapan emosi.

Bagiku pengalaman gadis baby sitter itu adalah bagian dari pelajaran hidup yang sangat berharga, malam ini aku berjanji bahwa tidak akan berbuat demikian pada siapapun sekalipun. Terlalu banyak manusia yang berbuat nista pada sesama. Kutak ingin menambah angka statistik keangkuhan sosial di zaman ini. Cukuplah bagiku menyaksikan dunia yang penuh dengan keacuhan social, manusia banyak yang buta mata hatinya dan tuli dengan kesombongannya. Menusia begitu asyik menikmati hidup tanpa peduli realita kesengsaraan yang ada dihadapannya.

Tidak hanya pada orang tua, bahkan benih keacuhan sosial mulai berkecambah lebih dini pada jiwa remaja dan anak kecil. Masih terngiang di benakku tentang kisah seorang rekan yang menceritakan anaknya yang selalu merengek jika ingin sesuatu, apapun yang diinginkan wajib dipenuhi, dan tidak akan berhenti merengek sebelum ayahnya memenuhi keinginannya. Suatu saat, kala anaknya merengek meminta mainan yang diinginkan, ia mencoba untuk meredam, kebetulan kala itu mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah lampu merah yang sarat dengan pengemis termasuk pengamen cilik. "De, coba Ade liat mereka, untuk makan saja mereka susah, harus capek ngamen seperti itu, mestinya Ade bersyukur bisa makan dan sekolah dengan cukup .." nasihat rekanku.

"Itukan mereka, salah sendiri mereka miskin, aku kan berbeda dengan mereka, aku punya papa yang bisa beliin aku mainan, jadi aku dan mereka gak sama.. pokoknya beliin mainan itu.." jawab anaknya di luar dugaan. Temankan hanya bisa mengurut dada, mencari jawab atas realita di matanya.

Aku dan kamu berbeda, kamu dan dia juga berbeda, pun dia dan kita berbeda, kita dan mereka pasti berbeda, perbedaan ada antara kita semua, tapi satu hal yang menyatukan kita.. bahwa kita adalah MANUSIA dengan semua anugerah kesempurnaan yang diberikan Allah untuk kita, maka manusiakanlah manusia, berlakukalah sebagai manusia yang dihendaki Allah sesuai amanat kemanusiaan NYA untuk kita. Wallahu A'lam.

ABDUL LATIEF
Sales Training Instructure
Astra International,Tbk -Honda
Email : abdul.latief@hso.astra.co.id
HP : 0852 166 566 32
Tlp : (021) 653 10 250 Ext.3546
Fax : (021) 653 10 245
Hidup sekali, hiduplah yang berarti...

Bls: Memecah Kebekuan Hati

Ada orang yang hanya tersenyum kala ia dapat meminta, ada orang yang hanya tersenyum kala ia menikmati apa yang ia miliki dan adalah yang terindah kala seseorang dapat tersenyum dengan apa yang ia beri.
Yang pertama pekerjaan sang papa yang tak mesti miskin dalam pandang raga, yang kedua dilakukan para pecinta harta dan yang ketiga milik para pecinta Sang Kaya

24 October 2008

Memecah Kebekuan Hati

Biasanya, setiap pagi kuselalu berdendang untuk mewarnai pagi ini dengan kegembiraan dan senyum. Entah kenapa pagi ini terasa berat untuk dijalani, mungkinkah karena tadi malam aku tidur terlau larut? ah... What Ever-lah, dan ternyata Tuhan 'menegurku' pagi ini. ku posting ke www.latief15610.multiply.com & www.abdullatief.com , jangan lupa kunjungi ya...

Memecah Kebekuan Hati

My Diary : Jakarta, 27 Maret 2008

By: Abdul Latief

"Hattrick….!" teriaku pagi ini. Tiga hari ini berturut-turut pergi ke kantor dengan Metro Mini, ternyata aku bertemu dengan pengamen yang sama. Seorang gadis kecil dengan kepingan pipih tutup botol sebagai alat musik,melantunan lagu yang masih sama dengan yang didendangkannya kemarin dan lusa yang lalu.

Pengamen memang bagian tak terpisahkan dari Metro Mini dan bus kota di Indonesia terutama Jakarta, tapi jika harus bertemu dengan pengamen yang sama, di tempat yang sama secara berturut-turut, bukankah itu suatu kebetulan yang luar biasa?

"Tak ada sesuatu yang diciptakan sia-sia, dan tak ada suatu kejadianpun yang terjadi tanpa direncanakan atau secara kebetulan, pun sepucuk daun kering yang jatuh dari pohon tak lepas dari takdir-NYA" begitu sekilas pesan yang kuingat dari guruku dulu.

Jika tak ada yang sia-sia, lalu apa makna pertemuanku dengan bocah pengamen ini? Bukankah lagu yang dinyanyikannya tak menyiratkan hikmah yang dalam untuk dipetik?; lantunan suaranya terdengar sumbang sumbang untuk dijadikan contoh cara bernyanyi yang baik – kalaupun banyak rekan-rekan yang mencibir suaraku saat melantunkan tembang Ebit G Ade, mestinya mereka membandingkan suaraku dengan bocah ini. He he... – , lalu apa?

Beberapa menit termenung tanpa makna, hingga berakhirlah tugasnya 'menghibur' para penumpang di Metro Mini ini. Kuperhatikan beberapa Mimik para penumpang, rupanya tak satupun dari mereka menebar senyum di pagi ini, mungkin lipatan senyum mereka telah terhimpit beban berat yang akan dijalani di tempat kerja mereka pagi ini; Rupanya Bocah pengamen ini tak berhasil menghibur para penumpang.

Ekspresi bocah itu kini tampak memelas sambil menyodorkan sebuah bungkus permen bekas yang digunakannya untuk merebut haknya sebagai pekerja seni di Metro Mini ini. Tak satupun penumpang yang peduli dengan juluran tangannya; jangankan selembar uang, sepatah kata maaf atau isyarat penolakan tak terlihat satupun, rupanya mereka 'asyik' meresapi tugas berat yang akan didapat hari ini; semua penumpang masih urung menebar senyum.

Sebuah rasa bersalah tiba-tiba datang padaku, "bukankah kemarin dan lusa kaupun berbuat hal yang sama padanya?; tak berbelas kasih apalagi menolong..! lihat bungkus permen itu masih kosong, segera ambil uang receh di kantongmu itu, bukankah memang sudah kau persiapkan untuk para pengamen dan pengemis seperti bocah itu?!!"

"Bukankah kalau aku berikan uang padanya berarti aku melestarikan budaya kemiskinan..???" batin ku berontak.

"STOP APPOLOGIZE...! berhenti memberi alasan!! dia semakin dekat denganmu. Bayangkan kalau dia adalah adik kandungmu, apakah kau tega membiarkannya seperti itu? Apakah secuil uluran rezekimu akan membuatmu miskin?"

"Tapi...."

"Sudahlah, jangan banyak alasan.. ini bukan lagi perkara sosial, politik, ekonomi, atau hal berat yang mesti diperdebatkan dan dibuat Undang-Undang. Melainkan sebuah bukti apakah kau masih memiliki hati nurani, apakah kau masih terketuk untuk membantu sesama yang membutuhkan?"

"Bukankah....."

"STOP....! jangan sok pintar kau, sekarang bungkusan itu ada dihadapanmu, kau akan memberi atau tak peduli?? Tuhan Maha Membalas setiap tindakan..."

Kuakhiri perdebatan batin ini dengan merogoh sekeping 'gopean' di kantong celanaku dan kumasukan ke dalam bungkusan kecil itu. "terima kasih pak.... " ujar bocah itu lirih.

Tak kusadari sebuncah senyum terkembang di bibirku, aliran darah melesat begitu deras di sekujur tubuhku, hatiku lapang, jiwaku terbang. Kurasakan bahagia tak terkira telah menyisihkan sesuatu yang tak berarti buatku untuk sesuatu yang sangat berarti buat orang lain.

Kuingat sebuah pesan yang selalu dilontakan mamaku pada kami anak-anaknya "Anak-anakku... Jangan biarkan rasa syukur pergi sesaatpun dari hati kalian, apa yang kita dapatkan saat ini pasti lebih baik dari banyak orang di sekitar kita. Sekalipun kita sangat menderita, yakinlah bahwa itu bagian dari nikmat yang terbaik dari Tuhan untuk kita"

"Anak-anakku... Jangan biarkan kebekuan hati menjauhkanmu dari perbuatan baik pada sesama. Baju bekas yang kau miliki, lembaran uang di kantongmu, senyum di wajahmu, tenaga di tubuhmu, ilmu di otakmu, rasa senang di hatimu, dan napas di jiwamu adalah modal hidupmu untuk berbuat kebaikan untuk sesama. Saat kau melakukannya, maka kau akan rasakan kebahagiaan yang tidak bisa orang lain rasakan. Dan Allah pasti punya perhitungan atas apa yang kau lakukan. Allah Maha Melihat Allah Mendengar, Allah Maha mengetahui..."

Rupanya hatiku telah beku selama ini, bocah kecil itulah yang memecah karang tajam yang menghalau belas kasihku. Sungguh Nikmat berbuat baik. Semoga aku akan menjadi orang yang selalu berbuat baik.

Kalau hari ini kugelontorkan sekeping uang, mestinya besok kusodorkan lembaran uang. Kalau hari ini kuberikan secarik baju bekas, esok mestinya kuberikan sebuah baju yang baru.

Kalau hari ini sebuah senyum kuberikan, maka esok mestinya kau buat orang lain tersenyum dan tertawa bahagia.

Tingkatkan terus nilai hidupmu. Hidup sekali, Hiduplah yang berarti...!

****

23 October 2008

Stella Award (award yg anyeh)

Baca deh... award yg super bego...


Sebuah penghargaan bernama Stella Award diberikan untuk gugatan paling "konyol" di AS. Mereka mendapat ganti rugi besar justru karena ulah dan kekonyolannya sendiri. Nama Stella Award sendiri berasal dari Stella Liebeck. Nenek berusia 81 tahun ini menumpahkan kopi yang dibelinya di McDonald ke dirinya sendiri. Liebeck menggugat McDonald dan dinyatakan menang. Kasus Stella mengilhami pemberian penghargaan ini.


Para kandidat untuk Stella award tahun ini adalah:

1. Kandidat pertama, Kathleen Robertson dari Texas. Robertson memenangkan ganti rugi dari dewan juri sebesar $780.000 setelah ia menggugat sebuah toko furnitur. Robertson menggugat toko itu karena pergelangan kakinya patah setelah tersandung anak laki-laki yang berlarian di dalam toko tersebut. Pemilik toko furnitur sangat terkejut terhadap isi putusan tersebut, mengingat anak lelaki yang "badung" itu adalah anak kandung Robertson sendiri.

2. Kandidat kedua adalah Carl Truman dari Los Angeles. Pria berusia 19 tahun ini memenangkan ganti rugi sebesar $74.000 dan biaya perawatan kesehatan setelah tetangganya melindas tangannya dengan Honda Accord. Truman tampaknya tidak menyadari bahwa tetangga pemilik Accord tersebut sedang berada di balik setir mobil itu ketika Truman berusaha mencuri velg mobil tersebut.


3. Kandidat nomor tiga adalah Terrence Dickson dari Bristol , Pennsylvania . Dickson sedang berusaha meninggalkan rumah yang baru saja ia rampok dengan melewati pintu garasi. Namun, ia tidak bisa membuat pintu garasi otomatis itu membuka ke atas karena pintu itu sedang rusak. Dickson juga tidak bisa kembali ke rumah itu. Karena ketika ia menutup pintu yang menghubungkan garasi dengan rumah, pintu itu terkunci secara otomatis. Karena keluarga pemilik rumah sedang berlibur, Dickson terkunci di garasi selama delapan hari dan bertahan hidup dengan meminum Pepsi dan sekantung besar makanan anjing yang ia temukan di garasi. Dickson--sang maling apes itu-- menggugat asuransi pemilik rumah dan mengklaim bahwa kejadian itu mengakibatkan ia menderita gangguan mental yang hebat. Dewan juri sepakat untuk memberi Dickson $500.000.


4. Kandidat keempat adalah Jerry Williams dari Little Rock , Arkansas ... Ia memenangkan ganti rugi $14.500 dan biaya perawatan kesehatan setelah bokongnya digigit oleh anjing tetangga . Anjing itu sendiri terantai di teras tetangganya. Award tersebut layak untuk diberikan kepada Williams. Juri berpendapat bahwa anjing tersebut mungkin sedikit terpengaruh oleh tindakan William yang saat itu menembaki anjing itu dengan senapan angin berkali-kali.


5. Kandidat kelima adalah Amber Carson dari Lancaster, Pennsylvania. Sebuah restoran di Philadelphia diperintahkan untuk membayar pada Carson sebesar $113.500 setelah ia terpeleset genangan minuman ringan yang menyebabkan tulang lengannya patah. Minuman itu bisa berada di lantai karena Carson melempar minuman itu pada pacarnya ketika bertengkar 30 menit sebelumnya.


6. Kandidat nomor enam adalah Kara Walton dari Delaware. Walton sukses menggugat sebuah night club ketika ia terjatuh ke lantai dari jendela WC umum night club tersebut. Kejadian itu menyebabkan patahnya dua gigi depan Walton. Kejadian itu terjadi ketika ia mencoba menyelinap melalui jendela WC demi menghindari membayar cover charge sebesar $3.50. Ia dianugerahi ganti rugi sebesar AS$12.000 dan biaya perawatan gigi.


7. Dan pemenangnya adalah.. Merv Grazinsky dari Oklahoma City. Pada November 2001, Grazinsky membeli sebuah mobil caravan Winnebago sepanjang sekitar 9 meter. Dalam perjalanan pertamanya menuju rumah, ia melewati jalan tol, menyetel radio sambil menyetir dengan kecepatan pada 70 mph. Lalu dengan santai, Grazinsky meninggalkan kursi supir ke belakang untuk membuat secangkir kopi . Tidak mengherankan, kendaraan itu keluar dari jalan tol, menabrak, dan terguling. Grazinsky menggugat Winnebago karena tidak menyebutkan dalam buku petunjuk bahwa kendaraan itu tidak bisa melakukannya,Ia mendapat ganti rugi sebesar $1.750.000.

Sebelum Aku Menikah (Just Kidding..)

Sebelum aku menikah, banyak hal yang memang harus dipersiapkan. Sebulan sebelum hari pernikahan itu tiba, aku berkali2 mondar mandir dari rumahku ke rumah calon istriku. Banyak hal yang harus dipersiapkan, banyak hal yang harus dibicarakan. Mulai dari persiapan gedung, materi acara, persiapan cetak undangan, catering dan lain2. Karena itu aku hampir tiap hari selalu ada di rumah calon istriku. Bahkan terkadang aku nginep di kamar kosong di lantai atas.

Siang itu di hari minggu, ketika semua ada di bawah, aku justru berada di kamar atas, berbaring seorang diri. Saat itu lah tiba2 Mia adik istriku membuka pintu dan masuk ke dalam kamarku.
Mia sangat cantik. Tidak begitu tinggi, tapi Mia memiliki body super bohay yang aduhai. Sangat sexy dan berkulit putih bersih. Saat masuk ke kamar, Mia mengenakan tank top dan ce lana pendek saja. Tentu saja aku kaget melihat penampilannya, apalagi Mia mengunci pintu dari dalam.

Aku lalu duduk di tepi tempat tidur, ketika kemudian Mia duduk di sampingku. "Mas. Aku mau ngomong sesuatu. Mungkin mas udah bisa menebak arah pembicaraanku. Mungkin mas sebenarnya udah tau isi hatiku terhadap mas."

Glek, ga salah berarti selama ini aku melihat Mia sering melirik2 ke arahku. Ternyata bukan cm aku yang GR. Ternyata dia sebenarnya suka ama aku. Mia lalu berkata lagi sambil meraba bahuku. "Aku mencintai mas sejak pandangan pertama. Aku ingin memiliki Mas, tapi itu tidak mungkin." "Mia, kau tau..." kataku, tapi Mia keburu memotong. "Aku tau Mas. Aku tau Mas lebih memilih mbak ku. Tapi mgkn cuma ini kesempatannya Mas. Aku akan memberikan semua untukmu, sekarang, Mas... sekarang atau tidak sama sekali. Karena hari2 berikutnya, mas sudah menjadi milik mbakku dan kesempatan itu tidak akan ada lagi." Nafasnya agak memburu. tatapan matanya nakal dan meminta.

Ya ampun, dia menawarkan dirinya untuk ku. Demi cintanya! Seketika itu juga aku langsung berdiri dan berlari keluar. Aku lari turun tangga. Nafasku ngos2an. Aku terus berlari menjauhi kamar, menuju pintu depan. Di kepalaku cm ada satu pikiran, aku
harus secepatnya menuju mobilku yg aku parkir di depan rumah.. Siapa sangka ketika pintu kubuka, di teras telah berkumpul semua orang.. Ada calon istriku, ada mertua ku, ada sepupu2, oma, opa, pokoknya semua ada di situ seperti menunggu ku.

Ayah mertua ku seketika memelukku "Kamu luar biasa. Kamu baru saja dites oleh Mia adekmu, dan kau lulus, nak.
Kau tidak tergoda!! Kamu bangga pada laki2 sepertimu." Calon istriku menitikkan air mata penuh cinta. Semua memelukku. Akhirnya aku dan calon istriku menikah dan kami hidup bahagia.

rahasia dari cerita ini :
Jangan bilang siapa2 ya, tapi aku lari secepatnya menuju mobil sebenarnya bukan karena menghindari Mia, tapi karena kondomku ketinggalan di dalam mobil.

20 October 2008

Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma

Setelah keluar dari Mizan, aku sering merindukan suasana berbagi ilmu dan wawasan yang tidak disertai hawa "gue benar, elo salah", mengajak berpikir holistis dan jauh dari "semangat menghakimi". Memang tidak salah jika Mizan terus berkembang. Tidak ada tempat bekerja yang benar-benar bernilai A dari segala sisi. Tapi, jika atmosfer intelektualitas yang kau cari, Mizan-lah salah satu tempat terbaik di Indonesia. Ya, kalau pun tidak bergabung dengan Mizan secara formal, baca buku-bukunya, ya. Hehe

Semoga Mizan tetap jaya.
=============================

Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma



Minggu, 12 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Ninuk Mardiana Pambudy & Bre Redana

Sukses film "Laskar Pelangi" dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah satu penerbit di bawah Mizan Publishing.

Kalau boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai orang," kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing.

"Kami juga senang karena—istilah 'ge-er'-nya teman-teman (di Mizan)—film ini Mizan sekali. Dalam arti, ada unsur agamanya, tetapi menekankan pada akhlak, pendidikan yang tidak mengukur anak-anak dari nilai akademis seperti dikatakan Pak Harfan, kepala sekolah di film itu, concern pada kemiskinan, menghibur tetapi berkualitas," tambah Ketua Yayasan Lazuardi Hayati yang mengelola sekolah Lazuardi di Cinere dan Sawangan (Depok), Cilandak, Jakarta Barat, Lampung, dan Solo itu.

Menurut Mira Lesmana yang bersama Mizan Publishing memproduksi film dengan sutradara Riri Riza ini, selama dua minggu pertama Laskar Pelangi sudah menyedot 1,5 juta penonton. Bukunya sendiri, menurut Haidar Bagir, sudah terjual 500.000-an kopi, sementara karangan Andrea Hirata yang lain, Sang Pemimpi dan Edensor, masing-masing terjual 300.000-an kopi, dan yang keempat, Maryamah Karpov, segera terbit. Keberhasilan Laskar Pelangi membuat Mizan Publishing mantap melangkahkan kaki masuk ke industri film dengan memproduksi Sang Pemimpi.

Buku bagus dan keberuntungan

"Menurut saya, keberhasilan buku ini adalah gabungan antara buku bagus, waktunya pas, dan juga keberuntungan," jelas Haidar.

Bagaimana cerita penerbitan Laskar Pelangi?

Buku ini dikirim ke Bentang di Yogya oleh teman Andrea Hirata yang karyawan Telkom. Buku itu sempat beberapa hari tidak dibaca karena pikiran karyawan Telkom tidak biasa menulis buku. Ternyata isinya sangat menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi.

Kami tahu buku ini bagus dan akan laku, tetapi tidak tahu bakal selaku ini. Lalu Andrea Hirata bertemu saya di Bandung, membicarakan kemungkinan memfilmkan cerita itu. Terus terang waktu itu saya tidak terlalu optimis. Buku sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan Sinema (kemudian menjadi Mizan Production) baru berpengalaman membuat acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?

Kemudian buku itu diangkat dalam acara Kick Andy (di Metro TV) dan meledak. Sebelumnya, buku-buku kami juga diangkat dalam acara itu, tetapi tidak meledak seperti Laskar Pelangi.

Bagaimana menjadi film?

Setelah buku meledak, kira-kira setahun lalu, mulai banyak sutradara menanyakan apakah akan difilmkan. Kami jadi optimis. Kami kontak Andrea dan dengan cepat memutuskan menyerahkan kepada Mira Lesmana dan Riri Riza karena mereka sukses menggarap Petualangan Sherina. Kami merasa cerita ini sedikit seperti film itu, ada menghiburnya, tetapi tidak kehilangan keindahan. Mizan tidak sendirian sebagai investor, saya mengajak Bachtiar Rachman, teman saya yang membikin sekolah Lazuardi Cordova di Jakarta Barat.

Keberuntungan Laskar Pelangi?

Keberuntungannya karena diangkat dengan sangat baik oleh Kick Andy, besok paginya sudah ada beberapa orang dari toko buku antre di depan gudang kami. Tetapi, tetap yang paling utama memang bukunya bagus.

Agama cinta

Perbincangan dengan Haidar berlangsung di toko buku sekaligus kantor Mizan Publishing di Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Toko buku itu, demikian Haidar, lebih dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi berbagai komunitas, seperti musik, sastra, film, dan para ibu muda.

Tahun 1982, saat masih kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, bersama dua temannya Haidar mendirikan Mizan. Setahun kemudian mereka mulai menerbitkan buku. Kini, setelah seperempat abad, Mizan Publishing memiliki 12 unit usaha dan membagi saham untuk karyawan senior dan melalui koperasi.

Bila awalnya Mizan menerbitkan buku tentang agama, sejak tahun 1990 jenis buku yang diterbitkan diperluas. Buku agama saat ini 20 persen dari sekitar 1.000 judul per tahun. "Mau cari buku resep masakan ada, buku tentang dekorasi, self help, sampai pendidikan," tutur penerima penghargaan Best CEO 2008 versi majalah Swa ini.

Sikap dan pandangan hidup Haidar dalam mengembangkan pemikiran yang mengutamakan modernasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta pembangunan peradaban yang berkeadilan dan berorientasi sosial di atas landasan spiritual yang positif amat mewarnai Mizan.

"Kami tidak tertarik menerbitkan buku yang berhubungan dengan pendekatan syariah karena biasanya pendekatan hukum menyebabkan eksklusivisme. Bukan hanya antara orang Islam dengan orang di luar Islam, tetapi juga internal Islam sendiri. Atau buku yang memojokkan kelompok lain dari sudut pandang keagamaan.

"Sebaliknya, kami menerbitkan buku dari semua sumber. Ekstremnya, ada bukunya orang Muslim, buku yang ditulis pastor, dan juga yang mungkin dianggap sekuler, seperti Agama Cinta yang dekat dengan advokasi tentang civil religion. Sebetulnya buku itu sangat kontroversial karena mau mengatakan, agama itu sebetulnya cinta," papar penerima tiga beasiswa Fulbright.

Kini dia sedang menyelesaikan dua buku berjudul Islam Agama Cinta; satu ditulis populer dan yang lain secara akademis dengan dilengkapi riset.

"Buku ini bukan hanya untuk orang luar, tetapi untuk orang Muslim sendiri. Ahli fenomenologi agama biasanya membagi agama ke dalam agama berorientasi nomos, hukum, yang dalam Islam disebut syariah; dan berorientasi eros, cinta.

"Biasanya fenomenologi tradisional memasukkan Islam ke dalam agama berorientasi nomos, hukum. Tetapi, melihat fenomenologi yang lebih belakangan sebetulnya kita harus melihat Islam sebagai agama yang tidak kurang-kurang berorientasi cinta.

"Saya ingin menunjukkan kepada kaum muslimin sendiri, di atas semuanya prinsip Islam adalah cinta. Hanya itu yang bisa membuat Islam terbuka karena pendekatannya kepada orang lain adalah kebaikan hati, berpikir positif, prasangka baik."

Sementara, menurut Haidar banyak kaum muslimin yang menekankan keberagamaan pada syariah.

"Saya tidak mengatakan syariah tidak penting, tetapi harus mengacu pada prinsip Islam agama cinta. Kalau melihat agama hanya bersifat syariah, akan membuat orang menjadi eksklusif. Cinta itu merangkul semua dan membuat prasangka baik: semua orang sama baiknya, sama benarnya, sama salahnya dengan kita," jelas Haidar.

Doktor filsafat Islam dari Universitas Indonesia ini juga membahas hal yang untuk beberapa pihak masih kontroversial. Misalnya, kekerasan dan perang.

"Islam agak khas dalam membuka peluang penggunaan kekerasan dan perang. Dalam buku ini saya tunjukkan betul, di atas semua itu prinsipnya tetap cinta. Perang dalam Islam hanya boleh dilakukan untuk melawan penindasan dan sifatnya defensif. Pada saat penindas siap duduk di meja perundingan, perang harus dihentikan.

"Dengan segala keterbatasan ilmu saya dalam hal ini, saya ingin menunjukkan kita harus melakukan paradigm shift, perubahan paradigma. Melihat Islam dari agama berorientasi hukum menjadi agama berorientasi cinta di mana hukum menjadi sarana kita memastikan setiap orang mendapatkan kasih sayang," jelas Haidar.

Lalu juga tentang neraka. "Prinsip kasih sayang itulah yang menjadi prinsip neraka. Neraka pada dasarnya bukan Tuhan menghukum manusia, tetapi apa yang dari Tuhan dapat dipersepsi berbeda oleh manusia," tambah dia.

Haidar mencontohkan segelas air dingin yang menyegarkan untuk orang sehat dapat menyiksa untuk orang sakit.

"Itu saya coba ungkapkan untuk menunjukkan Tuhan tidak membuat sesuatu yang pada dirinya sendiri menyiksa, tetapi karena manusia tidak hidup dengan cara yang menyebabkan dia mendapat kenikmatan. Ini memang kontroversial, tetapi saya secara konsisten ingin membuktikan hal-hal tersebut."


17 October 2008


Asal Goblek* 2, di Pulau Dewata.

My Diary : Kuta Bali, 8 November 2007

* Istilah ini saya dapat dari rekan salesman Honda di Jakarta yang sering kumpul-kumpul di sela pekerjaan mereka keliling menawarkan barang. Obrolan tanpa tema saat mereka kumpul inilah yang mereka sebut sebagai ‘asal goblek’.

Bapak kan sekarang sepertinya tengah gencar memperdalam konsep tentang bisnis, dan lagi-lagi sepertinya bapak tengah merintis sebuah usaha, apalagi bapak beberapa tahun ini akan pension, tentunya sudah sangat terpikir sebuah aktifitas untuk mengisi masa pasca pension. kira-kira usaha apa yang akan bapak buat nanti??” pertanyaan ini membuka ‘asal goblek’ bersama atasan saya pagi ini saat menuju lokasi training di denpasar. – baca asal goblek 1 untuk memperjelas alur diary ini.

Saya ingin membangun bisnis restoran tif?” jawabnya.

Ups…! Kemarin katanya bisnis restoran penuh dengan resiko, tapi Kok sekarang malah mau buat restoran?? Oh.. aku paham bahwa beberapa pertanyaan kritisnya kemarin merupakan sebuah proses alur berpikir untuk membuat analisa bisnis dan menyusun konsep manajemen resiko mengenai bisnis restoran yang ingin dirintisnya nanti. Sungguh cerdas memang..!. Oya, saya teringat, bahwa atasan saya pernah bercerita tentang rencana membuat sebuah restoran di daerah bandung, lokasi tepatnya saya tidak tahu, yang saya ingat bahwa beliau sudah sebidang tanah di sana. Konsepnya restorannya seperti apa? Yang jelas beliau memang pernah menceritakannya pada saya, tapi sangat tidak etis kalau saya harus menceritakan konsep orisinilnya di sini, karena saya takut salah seorang yang baca tulisan saya ini akan menggunakan idenya demi kepentingan pribadi, ‘membajak’ kata orang Indonesianya.

Bapak, kita kan sering berbicara mengenai konsep bisnis, ada hal yang sudah lama ingin saya tanyakan pada bapak, sebenarnya bapak pernah tidak merintis sebuah bisnis sendiri?” tanyaku lagi memancing pembicaan.

Saat ini memang saya tidak bisnis apa2 diluar aktifitas bekerja saya di perusahaan ini. Tapi sejak dahulu sudah beragam bisnis sudah saya jalani, dari mulai mengelola sebuah game station, menjadi agen minyak tanah, supplier ATK, bisnis Konveksi, dan beberapa bisnis lainnya. Hanya saja karena saya merangkap sebagai karyawan maka bisnis tersebut saya percayakan pada orang sedangkan saya tidak punya banyak waktu untuk mengelolanya maka bisnis tersebut tidak ada yang bertahan sampai sekarang” jawabnya. HORE..! pagi-pagi saya sudah mendapat ilmu baru, bahwa untuk sukses dalam suatu bidang, maka kita harus FOKUS..!

Mengapa memilih bisnis itu? dan Konsep Hidup apa yang diinginkan dari bisnis tersebut?” kembali saya meracik ramuan asal goblek baru.

Begini tif, saya ingin segala hal yang saya lakukan timbul dari hati dan kesenangan, dan patut diingat bahwa kesenangan tersebut bukan hanya untuk diri kita melainkan untuk orang lain, minimal akan menularkan kesenangan buat anak, istri dan orang terdekat kita. Kalau sudah demikian, tidak ada lagi keterpaksaan dalam hidup dan sekalipun kita gagal di dalamnya kegagalan tersebut tidak akan membuat kita sengsara”. Jawabnya padaku.

Apalagi pak” dasar nakal, aku kembali bertanya.

Tapi beliau menjawabnya dengan senyuman dan antusias “tif, sesuatu yang besar terkadang muncul dari sesuatu yang kecil tapi memiliki keunikan dan visi yang besar, mengerti maksud saya?”.

Saya mengangguk tapi belum paham sepenuhnya, oleh karenanya saya kembali bertanya “misalnya pak???” belum sempat terjawab eh ternyata kami sudah sampai di depan pintu gerbang lokasi training, tapi setidaknya ini sebuah PR buat saya untuk menuntaskan telaah atas jawaban tadi.

-- Huahhh…. Ngantuk juga, ups.. kulihat jarum jam di tangan kiriku semuanya bersatu di angka 12, pantas saja mataku mulai terkantuk ternyata pagi sudah mulai membuncah di ufuk fajar sana. ya sudah tiba saatnya unutk istirahat, sebab besok aktifitas trainingku akan mulai lagi. ---

EUREKA…! Hari ini sangat bermakna buatku.***


‘ASAL GOBLEG’* 1 di Pulau Dewata

My Diary : Kuta Bali, 7 November 2007

* Istilah ini saya dapat dari rekan salesman Honda di Jakarta yang sering kumpul-kumpul di sela pekerjaan mereka keliling menawarkan barang. Obrolan tanpa tema saat mereka kumpul inilah yang mereka sebut sebagai ‘asal goblek’.

Welcome to Denpasar Bro..!

Malam tadi saya tiba di Denpasar, Pulau Dewata orang menyebutnya. Pulau ini terkenal dengan Sunset dan Sunrise nya. Tidak hanya itu, pulau ini penuh dengan pemandangan menawan, dari mulai tanah lot, pantai kuta, jimbaran, pantai Sanur, Nusa dua adalah sekelumit contoh lokasi tujuan wisata yang tak diragukan keindahannya.

Setiap sudut pulau ini juga menawarkan jutaan pesona eksotik, dari gemulai para penarinya, pahatan indah hampir di setiap ornament perumahan, keteduhan rumah ibadah di setiap titik komunitas, penduduk dengan pakaian adatnya, kesegaran aroma dupa sembahyang sejak pagi buta, dan banyak lagi pesona yang tak tergambarkan melalui catatan jentik jari saya ini. Hemat saya, wajar saja kalau pulau ini disebut orang sebagai pulau dewata, mungkin tempatnya para dewa-dewi menikmati masa liburan akibat penat pengurusi orang bumi.

Keindahan, eksotika, dan segala pancaran pesona Bali bisa jadi telah membuat telinga anda jengah karena selalu didengungkan beragam media promosi pariwasata, rekan yang pernah berkunjung ke sana, atau melalui pengalaman anda sendiri yang pernah datang mengunjungi. Jadi tidak relevan rasanya jika saya menjejali anda lagi dengan cerita saya mengenainya, alih alih saya membuat anda tertarik, malahan membuat cerita saya terkesan norak dan mengurangi keindahan pulau ini. Sehingga saya lebih tertarik untuk berkelakar tentang hal lain yang lebih human interest, atau paling tidak for my self interest.

Seperti singgungan saya di awal, bahwa saya tiba malam hari atau tepatnya menjelang pagi, sekitar 23.35 saya tiba di bandara Ngurah Rai, pukul 23.50 waktunya kami check ini di hotel The Rani Kuta. Lelah memang rasanya tapi inilah tugas kami – saya dan atasan saya di Departemen Sales Training Astra International Honda Sales Operation – yang harus keliling Kota untuk menyampaikan materi training bagi para salesforce Honda hampir di seluruh Indonesia.

Asal Goblek 4 Mata.

Pagi harinya, keberangkatan kami ke lokasi training disambut oleh hujan rintik yang selalu membasahi kota denpasar selama 2 minggu ini. Kebiasaan kami, sepanjang perjalanan kami isi dengan obrolan ringan seputar training, urusan kantor, improvement, bahkan mengenai urusan pribadi sekalipun.

Kali ini, obrolan kami mengarah pada urusan bisnis, itu bermula saat kami melihat warung tenda seefood yang berada di dalam sebuah bengkel mobil besar di jalan menuju Pantai Kuta. Menurut kamu bisnis rumah makan itu beresiko besar atau tidak?” Tanya atasan saya tiba-tiba.

“Ya, setiap bisnis memang beresiko, bukankah itu wajar pak? Dan mengenai rumah makan itu saya pikir resikonya kecil, bahkan cederung ide Brilian” jawab saya.

Mendengarnya, atasan saya mengernyitkan dahinya sambil menunggu kelanjutan omongan saya, “Bukankah bisnis tersebut adalah sebuah ide yang Blue Ocean?, dunia ini sekarang punya kendala akses, bagi setiap orang di zaman ini waktu dan kemudahan merupakan konsen yang tidak bisa ditawar lagi. Kebutuhan selalu ingin dikemas dengan kesenangan. Strategi yang diterapkan olehnya hampir sama dengan pola one stop shoping-nya supermarket dan Hypermarket, yang menyediakan semua kebutuhan pelanggan hanya dalam satu toko. Warung itupun terletak di dalam bengkel yang cukup ramai, jadi para pelanggan bengkel yang harus menunggu mobilnya diperbaiki bisa mampir di warung tersebut, tidak hanya itu bagi pelanggan luar yang ingin makan di sanapun aksesnya terbuka, parkirnya kan cukup luas, dan warung ini tidak punya kesan tertutup sehingga orang sangat tertarik untuk datang ”, jelas saya panjang lebar, Atasan saya hanya tersenyum sambil terus menerawang ke depan.

Kalau tidak laku bagaimana tif?” tanya atasan saya sambil sedikit melirik ke arah saya.

Seafoodnya kan belum dimasak pak, jadi bisa di es”, jawab saya.

Berapa lama dia bisa tahan di es? Bukankah semakin lama di es akan mengurangi kenikmatannya?” tanya atasan saya lagi.

untuk satu sampai 3 hari kan gak masalah pak?” Bantah saya.

Darimana kamu tahu bahwa dia laku? Kalau sama sekali gak laku?” tanya atasan saya mendesak.

Kalau gak laku ya bangkrut pak, itukan sebuah hukum alam, bahwa ketika sebuah bisnis tidak bisa merebut dan mempertahankan pelanggan, maka bisnis tersebut hanya tinggal menunggu waktu untuk tutup”. Jawab saya santai.

Itulah resikonya bisnis makanan tif, terlalu banyak variabel yang mempengaruhinya, dan makanan itu adalah barang basi, belum lagi kenaikan sembako, dan banyak lainnya. Satu lagi yang harus kamu ingat, bahwa kenaikan harga dalam sebuah makanan akan berdampak besar bagi pelanggan, karena mayoritas pelanggannya adalah sensitif price ” tambahnya lagi. Sayapun mengangguk seakan mengamini perkataan itu, yang ternyata ampuh untuk mengakhiri perdebatan mengenai dampak dan resiko bisnis warung tenda di bali atau tepatnya bisnis makanan.

Obrolan singkat ini telah membuat saya terdiam sejenak dengan pikiran menerawang mencari jawab atas teka-teki yang seketika menyeruak dalam batin saya. Ratusan sudah buku ekonomi dan bisnis yang saya baca, semuanya sangat berguna bagi saya untuk mengisi pundi-pundi ide dan wawasan bisnis yang senantiasa berkembang tiada henti, tapi rasanya baru kali ini saya merasa tergelitik untuk masuk lebih dalam pada pertanyaan yang simple but powerfull yaitu ”benarkah? Lalu bagaimana sebaiknya?”

Asal Goblek dalam Batin

Bukankah sebuah bisnis pasti menuai resiko? Menurut literatur yang saya baca, hanya penakutlah yang tidak berani menerima resiko, dan bagi mereka yang tidak berani menerima resiko maka dia tidak akan pernah melakukan apa-apa yang pastinya diapun tidak akan mendapatkan hasil apa-apa. ”who makes no mistakes,makes nothing”, hal itupun berlaku di dunia bisnis bukan?

Adakah bisnis yang tanpa resiko? Tidak ada..! teriak saya dalam hati, tidak melakukan apapun ada resikonya. Pernah dengar kan ada orang yang tidur lalu seluruh hartanya ludes dimakan api atau dirampok orang? Jadi tidak ada bisnis tanpa resiko.

Bisnis apakah yang memiliki resiko kecil? menurut dosen mata kuliah wiraswasta saya, besar kecilnya resiko berbanding lurus dengan Besar kecilnya keuntungan yang akan didapat. Artinya, jika menginginkan keuntungan keuntungan yang besar, maka kemungkinan resiko yang akan didapat juga besar, begitu sebaliknya resiko yang kecil hanya dimungkinkan hanya untuk keuntungan yang kecil. contohnya, antara berinvestasi di saham dengan menanamkan modal dalam deposito tentunya lebih kecil resiko di deposito, hanya saja keuntungan anda dalam deposito ditakar oleh suku bunga yang berlaku saat itu, tak lebih dan tak kurang. Sedankan investasi di saham gain / keuntungan yang mungkin anda raih sangat besar tergantung keahlian anda dalam memainkan modal anda, walaupun pada akhirnya banyak juga yang hasilnya ’jeblok’ karena resiko yang didapat akan sangat besar jika salah berinvestasi

Lalu, bagaimanakah kita mendapatkan untung besar dengan resiko yang kecil ?? Satu hal yang harus anda ingat, bahwa segala sesuatu hanya berupa ’POTENSI’ selama itu belum terjadi, termasuk sebuah ’RESIKO’ hanya berupa potensi jika hal tersebut tidak menjadi kenyataan. Oleh karenanya kemampuan berkreasi manusia yang luar biasa telah menciptakan ”manajemen resiko” sebagai alat untuk mengatur resiko menjadi lebih kecil atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Bagiamanakah teknis manajemen resiko tersebut? Wah terlalu panjang rasanya kalau saya jelaskan dalam tulisan ini, lagi pula manajemen resiko telah menjadi satu mata kuliah khusus dalam Ilmu manajemen.

Kini rasa ingin tahu saya mengenai resiko sudah terjawab, lantas siapkah saya menghadapi resiko bisnis?? ”eittt.. tunggu dulu....!” batin saya teriak. Apa yang dimaksud dengan bisnis? kini pikiran saya tengah membolak balik literatur dalam labirin otak saya – tsst... sebenarnya saya mencarinya di memori laptop saya, karena laptop saya telah menjadi otak kedua saya, akibat sangat ketergantungannya saya padanya--. Ternyata di sana saya temukan beberapa kepingan definisi mengenai bisnis, antara lain.

Bisnis adalah Usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan bidang usaha...(Kamus Besar Bahasa Indonesi)

Bisnis adalah Pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan dan memberikan manfaat... (Skinner)

Business is The buying and selling of goods and services ...(Snogara dan Soegiastuti)

Bisnis adalah Suatu organisasi yang menjalankan aktifitas produksi dan penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit… (Straub dan Attner)

Membaca definisi ini, saya merasakan kelegaan dalam batin saya, pasalanya bukankah saat inipun saya sedang berbisnis kendati dalam status saya sebagai seorang karyawan?. Sebab saya selalu menganggap bahwa perusahaan tempat saya bekerja bukan merupakan perusahaan orang lain, melainkan telah menjadi bagian dari perusahaan saya sendiri yang jika saya bekerja keras untuk mengembangkannya, maka saya pulalah yang akan untung. Jadi apakah masih mau menyebut saya tidak bisnis saat ini?

Dasar Bodoh kau..! di Indonesia pengertian suatu makna ditentukan berdasarkan makna yang paling dikenal masyarakat. Madrasah misalnya, dalam bahasa aslinya bermakna sekolah baik sekolah umum maupun agama, tapi di Indonesia mengalami spesialisasi menjadi Sekolah yang berbasis agama Islam. Dan bisnis yang saya maksud di sini juga adalah bisnis dengan membukan usaha sendiri, tidak menjadi pegawai dalam perusahaan orang lain..!” batin saya kini mulai berontak euy..! he he he

Uhhh Slow down Babe.. take it easy, just let it go..!” kini batinku yang lain mulai bernyanyi menenangkan demontrasi batinkku yang lain. Begini, Sebagai penguat bahwa saya tengah berbisnis saat ini saya akan gambarkan dalam analogi lain. Kalau anda membangun sebuah perusahaan baru sebesar tempat saya bekerja sekarang, kira kira anda butuh uang berapa banyak? Bisa Berpuluh-puluh milyar modal uangnya saja, belum lagi modal lain berupa pembentukan jaringan, konsep, dan segala pondasi bisnis lainnya yang tak terbayang bagaimana mengumpulkan uang sebanyak itu dan berusaha sejauh itu.. wuih… alih-alih saya mengumpulkan semua itu, malahan saya keburu di ajak ke grogol akibat setress…! Kini, saya tidak perlu mengumpulkan dana sebanyak itu, saya tidak mesti membangun segal infrastruktur, jaringan, dan segala pendukung lainnya, saya hanya perlu menggunakan kemampuan saya untuk menjaga dan mengembangkannya sehingga lebih besar lagi, yang tentunya saya akan mendapatkan uang atas itu. Adakah bisnis yang lebih menguntungkan dari ini semua?? Anda tinggal menganggap bahwa perusahaan tempat anda berkerja adalah milik anda maka anda telah menjadi pemiliknya…!

HORE…! Kini saya menjadi tenang, karena sudah memiliki perusahaan sebesar ini, dengan potensi pertumbuhan yang luar biasa, dan kontribusi yang luar biasa terhadap diri saya. Ini adalah perusahaan yang akan saya kembangkan, karena ini adalah perusahaan Saya...!! ***